Kamis, 28 Februari 2008


Kira-kira, saya pantas tidak punya rumah seperti ini. Kata Mandra, wartawan Suara Merdeka, saya pantas sekali berpose di depan rumah ini. "Itu dah pantes jadi rumah lo, dengan menggandeng dua istri disebelah mu. Satu luna maya yang satu lagi terserah lo,"ujarnya kagum.
Kata Teguh, pemuda tukang gelut itu. "Wah omahmu tip, sangar hebat, dadi orkay niy, mbok bagi2 warisan," ujarnya.
Kata saya, ini ada orang kaya iseng biki rumah seindah bokong J.Lo, tapi ga dipake. Mubazir.. Read more on this article...

Jumat, 15 Februari 2008

Juni menikah



"Biar kalian mendahuluiku lulus kuliah, tapi soal menikah aku lebih segala-galanya dari kalian," ujar juni, si mempelai laki-laki.

Soal ini dia memang lebih hebat dari kami, tapi ingat hanya soal ini saja.. Read more on this article...

Rabu, 30 Januari 2008

Kemana Pers Kampus Mencari Duit?

Awal tahun ini, tepatnya tanggal 1 januari 2008, saya terlibat pembicaraan agak menarik dengan Andrie dan Wiwik di Lumbung Resto, nama lengkapnya Lumbung Resto and Coffeehouse, letak café ini sekitar 300 meter arah utara kampus FISIP Unsoed, tepatnya di depan SPBU Pabuaran, Kecamatan Purwokerto Utara, Banyumas. Lumbung Resto ini menurut saya adalah salah satu restoran yang berusaha keras memenuhi standar penyajian. Dari mulai appetizer, main course sampai dessert disajikan berurutan.

.Misalnya anda memesan dessert, sementara teman anda memesan main course, maka pesanan anda ini akan diantar nanti setelah teman anda menyelesaikan main course-nya. Standar kan? Kata Shanti, teman saya yang wartawan kuliner itu, restoran seperti ini disebut fine dining resto.
Kata Shanty lagi, budaya kita sudah lama mengenal urut-urutan penyajian makanan seperti ini, “Standar penyajian makan raja juga seperti ini”, kata wartawan berbodi agak bengkak ini. Shanti memang sengaja saya hubungi untuk menjelaskan seluk beluk penyajian restoran standar.
Berdasarkan informasi dari Shanti, saya berani mengambil kesimpulan kalau Lumbung Café ini gak fine-fine banget. Di beberapa sudut resto, ada tempat lesehan. Saya pikir, lesehan tidak masuk salah satu criteria restoran untuk bisa disebut fine dining resto. “Kalo gitu sebut aja semi fine dining resto, tief”, ujarnya.
Saya dan Wiwik datang belakangan. Ga bosen-bosen saya dengan Wiwik ini, padahal malamnya saya sudah menghabiskan pergantian tahun dengannya, eh siangnya, sudah bareng lagi. Thanks for sweet old and new party ya..
Sambil menunggu kami datang, Andri memesan light meal, namanya Lumbung Sampler, ada keranjang kecil dari anyaman bambu yang berisi kentang goreng, sosis, dan 3 butir jenis bakso-bakso-an. Ada juga sedikit sayur, kubis, kol dan timun yang diiris kecil-kecil. Minumnya Red and Glamour, ini campuran strawberry, gula pasir dan susu, tentu saja diblender.
“Buat memancing selera” katanya. Selera kok dipancing. Paus kalee..
Main cource-nya Andri memesan Ayam Betutu. Kata pegawai resto yang melayani pesanan kami, ayam olahan itu adalah menu andalan Lumbung Resto. Aneh juga ya, restoran di Purwokerto kok menu andalannya ayam khas Bali, ga nyambung bo! Wiwik pesan Nasi Goreng Jawa Khas Lumbung, kalau ini lumayan lah, ada nama resto yang nempel di menu. Telornya, Wiwik minta digoreng, perempuan manis ini tidak suka telor ceplok. Setelah mencicipi sedikit, sayapun akur, rasanya memang Jawa banget.
“Telor kalau di celpok rasanya jadi aneh”, ujarnya dengan raut agak gigu. Wiwik pesan Lemon Squash untuk minumannya, kalau minuman ini, campuran jeruk lemon dan teh. Pesanan saya cukup mango blend, rujak sayur yang saya beli di warung sebelah kos-kosan cukup memenuhi rongga perut. Masih wareg.
Baiklah sodara-sodara, saya tidak akan panjang lebar menulis wisata kuliner kami, saya ingin menulis tentang materi obrolan kami di resto itu.
“Ada diskusi menarik di Forum Warteg”, kata Andri membuka obrolan, sesekali tangannya sibuk nyewir Ayam Betutu pesanannya. Forum Warteg adalah milis orang-orang yang dulu pernah nongkrong dan sering berdiskusi di Warteg depan FISIP UNSOED, pada masa jayanya warteg adalah salah satu barometer gerakan mahasiswa di Purwokerto. Saya dan Andri ikut milis itu sejak milis didirikan, sekitar tahun 2004, moderatornya Mas Ipul, senior kami mantan wartawan Tempo, sekarang Mas Ipul sedang membesarkan Koran barunya, Joglo Semar yang berbasis di Solo. Sementara Wiwik belum bergabung di milis, “Dari dulu ga sempat ndaftar” katanya.
Obrolan atau tepatnya “berbalas email” itu diawali dari email Fadli, dia Pemimpin Redaksi LPM Solidaritas FISIP Unsoed. Perihal-nya tentang pembukaan lowongan sumbangan dana untuk penerbitan Majalah Solidaritas. Gampangnya gini, “Semua alumni Solid (nama pendek Solidaritas) dan orang-orang yang pernah bersentuhan dengan Solid dimohon untuk menyisihkan sebagian pendapatannya guna menambah dana penerbitan majalah” demikian kira-kira intisari tulisan Fadli di email.
Tema majalah yang akan diterbitkan adalah PILKADA Banyumas, karena itulah dalam surat permohonannya Fadli tegas menyortir sumbangan yang berasal dari proses politik di Banyumas. Hanya dana-dana dari individu dan alumni yang tidak terindikasi terlibat dalam proses politik Banyumas yang diterima Solidaritas.
“Ingin menjaga independensi, tema ini sangat sensitif”, katanya.
Sebelum jauh ngomong tentang “permohonan bantuan duit” ini, saya ingin jelaskan latar belakang mengapa kami tertarik dengan obrolan galang-menggalang dana majalah.
Andrie dan Wiwik adalah dua orang mantan anggota Lembaga Pers Mahasiswa Sketsa UNSOED. Sketsa ini LPM tingkat universitas, di UNSOED memang ada pers kampus tingkat fakultas, dan tingkat universitas, lembaga pers di dua tingkat ini berjalan sendiri-sendiri, tidak ada subordinasi.
Mereka pernah menduduki jabatan Pemimpin Umum, jabatan puncak di organisasi mereka, tentu dengan periode yang berbeda, Wiwik ini adik angkatan Andri. Saya sendiri adalah mantan Pemimpin Redaksi LPM SOLIDARITAS FISIP UNSOED. Bukan jabatan puncak seh, tapi lumayan lah, masuk jajaran elit kepengurusan.
Kesimpulan saya, forum tersebut layak untuk membicarakan penggalangan dana buat pers kampus, walaupun dunia pers kampus sudah lumayan jauh kami tinggalkan. Cukup compatible lah…
Nah, ternyata sortiran Fadli atas dana yang masuk mendanai penerbitan inilah salah satu pangkal perdebatan. Hendro Gajah, mantan mahasiswa Administrasi Negara angkatan tua banget pernah mencibir dalam forum, "Ga usah pusing, duit itu dari setan atau iblis, yang penting independesi tidak tercerabut, dan majalah bisa terbit," tulisnya.
Kalau Uung, yang mulutnya tidak pernah berhenti mengejek manusia lain itu berkomentar agak realistis, menurutnya semua pilihan ada di tangan generasi Solid sekarang. Duit sumbangan tidak bisa terlepas dari siapa yang memberi duit dan plus kepentingannya. Dia mencontohkan, jika anak-anak solid mendapat duit dari Amang pasti orang akan berpikir kalau Solid menerima duit dari PDI Perjuangan, karena setulus-tulusnya Amang tidak mungkin lepas dari anggapan bahwa dia adalah aktifis yang sekarang bergabung ke partai moncong putih itu, begitu katanya. Wah susah juga ya..
Komentar lainnya senada, Dewo yang wartawan Republika, Burhan wartawan Suara Merdeka, Syarif kolega Burhan. Kalau Barid, si penguasa kenop gerakan sosial baru itu, saya lupa komentar atau tidak dalam soal ini, tapi kalo komentar pun paling tidak mutu. Intinya agar menjaga independensi pers kampus, termasuk soal duit.
Kembali ke lumbung resto. Dalam diskusi awal tahun itu, saya punya pikiran begini, pers kampus tak ubahnya media komunitas lain. Seperti komunitas petani, pedagang, buruh dan lain-lain. Media komunitas yang baik adalah media yang dihidupi oleh komunitas itu juga. Bahasa sederhananya, komunitas memiliki sense of belonging, handarbeni, rasa memiliki terhadap media. Jadi misalnya media kampus ini tak segera terbit, anggota komunitas akan mempertanyakannya, ingin tahu, kenapa bisa tak terbit, apa seh kendalanya. Komunitas tidak rela untuk tidak menyimak terbitan terbaru media itu. Kayak salah satu klub sepak bola di EPL itu lho, jadi ada satu klub yang terancam bangkrut, nah para supporternya bantingan biar klub tutup usia, jadilah sekarang saham mayoritas klub itu dimiliki oleh para fans. Begitulah kira-kira.
Untuk bisa diterima dan dihidupi oleh komunitasnya, media harus menyediakan kebutuhan-kebutuhan komunitas. Misalnya kajian-kajian alternatif yang mendukung kuliahnya, atau analisis yang bisa jadi referensi tambahan, karena perpus minim koleksi misalnya. Jadilah media ini pride, kebanggaan komunitas.
Dulu waktu saya masih jadi aktifis pers kampus, saya berangan-angan bahwa media kampus nantinya berisi tulisan-tulisan tentang kampus, dihidupi oleh pembeli mahasiswa, dan iklan-iklan seputar kampus. Media kampus ini menjadi alternatif yang ditunggu banyak orang di kampus. Sayangnya, sampai akhir hayat di pers kampus, angan-angan itu tak kunjung terwujud. Paling banter, selama jadi pemred di Solidaritas, saya hanya bisa menerbitkan beberapa buletin Belik, nir majalah yang sampai akhir kepengurusan tak tergarap. Tapi lumayan, waktu itu bulletin Belik yang kami terbitkan selalu ludes diserbu pembeli. Tapi angka penjualan ini tidak berhasil menolong waktu kami mempertahankan LPJ kepengurusan, tetep aja ditolak forum. Hiks sedih.
Diakhir obrolan kami sepakat, kalau media yang cocok untuk jadi produk pers kampus adalah jurnal ilmiah. Tidak harus jurnal penelitian lah,
bersambung..tunggu aja..
Read more on this article...

Senin, 17 Desember 2007

Air dan Kehidupan

Kehidupan, konon hanya ada di planet bumi. Di planet inilah ada kehidupan manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Menurut para ahli, kehidupan di bumi ini ada karena terdapat unsure udara dan air, unsure paling penting penentu kehidupan. Hal ini dulu sering kita dengan waktu kita mendapat pelajaran IPA, jaman kita sekolah dari SD sampai perguruan tinggi, kita diberi tahu jika air adalah unsure utama pembentuk kehidupan di muka bumi.

Kesadaran kita tentang air berbeda dari jaman kita kecil. Dulu kita asyik saja bermain air, dus-dusan sampai mata memerah dan kulit legam. Sekarang kita menyadari bahwa tanpa air irigasi sawah kering dan tak berproduksi. Tanpa air ledeng yang mengalir lancar, keluarga-keluarga di kota tergangu irama kehidupannya. Bahkan di kota-kota besar, setiap keluarga harus menyiapkan rupiah dalam jumlah yang tidak sedikit untuk menghadirkan beberapa jerigen air di dapur. Kita juga mulai dengan serius berteriak tidak setuju ketika hutan banyak digunduli, karena kita tahu hutan adalah spon raksasa penyimpan air.
Secara alamiah, air menempati posisi yang unik bahkan sentral dalam kehidupan kita. Vandanashiva seorang aktifis lingkungan dunia menyebut air sebagai matrik budaya dan dasar kehidupan, karena itulah air harus dijaga dengan benar agar kehidupan manusia tidak terganggu. Dalam pandangan yang lebih kapitalistik, Ismail Serageldin, wakil direktur Word Bank pada tahun 1995 mengatakan, dimasa depan perang bukan lagi disebabkan oleh persengketaan minyak, barang tambang yang hanya bisa diperoleh dengan mengebor sedalam ribuan kilometer ke dalam perut bumi, perang masa depan dipicu oleh air.
Sesungguhnya, ada landasan etik pengelolaan air. Karena semua orang di dunia membutuhkannya, air tidak boleh dikelola selayaknya komoditas yang bisa mendatangkan keuntungan besar.
Pertanyaannya adalah mengapa air menjadi memiliki nilai ekonomi sedemikian tinggi?
Read more on this article...

Kamis, 13 Desember 2007

Banyumas yang Mengering

Ini kejadian rutin di Purwokerto, khususnya di perumahan-perumahan yang menjadi pelanggan PDAM. Tiap memasuki musim kemarau, sekitar bulan Juli, aliran ledeng ke rumah mereka crat-crit, tidak lancar dan hanya air mengalir beberapa jam sehari. Termasuk perumahan di seputar Universitas Jenderal Soedirman, padahal jaraknya hanya beberapa kilometer dari daerah resapan air di Baturaden.

“Dua tahun saya ngontrak di GS (Perum Griya Satria), tiap kemarau, mandi selalu ngungsi”, ujar Priyo (22 th), mahasiswa FISIP Unsoed asal Tegal. Priyo juga mengaku sering begadang, menunggu ember dan bak mandinya terisi penuh. Di perumahan tempat dia tinggal, biasanya ledeng kembali mengalir tengah malam sampai dini hari.
Keluhan sama juga diungkapkan oleh Heri (35 th) seorang PNS di Balai Pelelangan Ikan Cilacap yang tinggal di perumahan Tanjung Elok Purwokerto. Jika memasuki musim kemarau, ledeng di rumahnya tidak pernah lancar. “Kalau sudah terang (kemarau) repot mas” ujarnya.

Masalah PDAM
Ketika ditanya apa penyebabnya, serentak mereka menuding PDAM Banyumas sebagai biang keladi masalah ini. Menurut mereka, BUMD ini tidak memiliki skema alternative untuk mengatasi keluhan pelanggan yang tiap tahun berulang.
“Masa dari tahun ke tahun tidak pernah ketemu solusinya?”, ujar Heri.

PDAM Banyumas memang pantas pusing. Kondisi perusahaan tak cukup menggembirakan, saat ini kapasitas produksi mereka 517,98 Liter/detik. Dengan kapasitas itu, mereka hanya bisa melayani 66,91 persen di Kota Purwokerto, 42,90 persen dari kota se Kabupaten Banyumas, dan 15,2 persen dari Kabupaten Banyumas, itupun dengan layanan yang pas-pasan bahkan cenderung kurang.

Kesulitan yang dihadapai PDAM adalah sumber air baku yang semakin sulit didapat. Data yang diperoleh dari Bagian Konservasi Sumber Daya Hutan dan Lingkungan (DKSDHL), Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Banyumas, membenarkan alas an ini. Pada bulan Agustus 2007 jumlah mata air di Kabupaten Banyumas hanya tinggal 500 titik, padahal di tahun 2002 jumlah mata air di Kabupaten Banyumas mencapai 3.002 titik. Secara umum inilah penyebab utama krisis air bersih di 57 desa Banyumas akhir-akhir ini.

Selain persoalan pasokan air baku, 30 persen sarana prasarana produksi dan distribusi air milik PDAM dalam kondisi rusak, usia peralatan teknis itu telah lebih dari 20 tahun, bahkan ada berapa peralatan peninggalan pemerintah colonial Belanda yang masih digunakan. Problem-problem tersebut menumpuk dan sulit diatasi, pada akhirnya, pelangganlah yang tiap tahun merasakan ledeng yang macet, dan air yang crat-crit, keruh, bahkan berbau.

Kekeringan Parah
Kabupaten Banyumas dengan topografi wilayah yang berbukit-bukit memang memungkinkan terjadi kekeringan di musim kemarau. Terdapat 40 desa yang tersebar di 12 kecamatan di Banyumas yang menjadi langganan kekeringan. 12 kecamatan itu adalah Kebasen, Rawalo, Sumpiuh, Tambak, Kalibagor. Kecamatan lainnya Wangon, Somagede, Rawalo, Cilongok, Jatilawang, Ajibarang, dan Gumelar.
Kekeringan di tahun 2007 ini lebih parah dari tahun kemarin, di Kecamatan Tambak dan Sumpiuh, pada bulan Agustus 2007 sudah mengalami instrusi. Intrusi adalah gejala alam berupa masuknya air asin ke daratan. Gejala ini disebabkan rendahnya permukaan air tawar. Selain itu, kejadian ini juga dipicu oleh rusaknya klep pengatur pembuangan, sehingga air laut samudra hindia yang berjarak 30 km dari sebelah selatan kecamatan tersebut masuk ke sungai-sungai dan akhirnya meresap ke sumur warga. Biasanya intrusi terjadi saat kemarau mencapai puncaknya, kisaran bulan November, tapi tahun ini intrusi sudah terjadi di bulan Agustus.
Secara umum disebutkan dalam surat surat edaran Provinsi Jawa Tengah No. 360/8476 tertanggal 14 Juli 2003 bahwa, 29 kabupaten di Jawa Tengah mengalami kekurangan air bersih. Di karesidenan Banyumas dan Pekalongan terdapat 9 kabupaten yang mengalami kekurangan air. Tercatat 327 desa di 57 kecamatan yang tersebar di Kabupaten Batang, Pekalongan, Pemalang, Tegal, Brebes, Banyumas, Banjarnegara, Purbalingga dan Cilacap mengalami kekurangan air bersih.
Dampak paling terasa adalah kesulitan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari. Di desa Kedungwuluh Lor, Kecamatan Patikraja misalnya, Selama musim kemarau, mereka harus mencari ke sejumlah mata air di luar desa yang jarak tempuhnya mencapi 1,5 km. Sementara bantuan air bersih dari PEMKAB Banyumas hanya berkisar 4000 liter. Jumlah tersebut tidak cukup untuk memasok kebutuhan ribuan warga. Akibatnya, pembagian air bantuan pemerintah selalu diwarnai dengan rebutan air, dan keluhan tidak memperoleh jatah air bersih. Masyarakat di Kecamatan Sumpyuh warga terpaksa memilih mencari air ke desa tetangga yang letaknya sekitar 3-5 km. Bahkan sebagian dari mereka mencari air hingga ke Rowokele dan Ayah di Kabupaten Kebumen.
Kekeringan juga mengancam kondisi ketersediaan pangan. Pada minggu pertama Agustus 2007 kekeringan di Jateng sudah melanda sekitar 108.000 hektar lahan sawah dengan kondisi puso sekitar 10 persen. Akibatnya, pada tahun 2007 ini, produksi padi diperkirakan menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ramalan II 2007 menunjukkan angka perkiraaan produksi padi dalam setahun hanya sebesar 8,38 juta ton dengan luas panen selama tahun 2007 hanya seluas 1,56 juta hektar. Berbeda dengan tahun 2006, angka produksi mencapai 8,73 juta ton, angka tertinggi sejak tahun 2000. keberhasilan ini berkat dkungan curah hujan, saat itu jumlah lahan panen mencapai 1,66 juta hektar dengan kondisi puso hanya 6.000 hektar.

Kerusakan Ekosistem
Kekeringan dimusim kemarau dan banjir di musim hujan sepertinya sudah menjadi agenda rutin dalam kehidupan kita. Jika sudah seperti ini, bukan lagi fenomena alam biasa. Kenyataan ini merupakan akibat dari ketidakseimbangan ekosistem, sebabnya adalah kerusakan lingkungan yang parah. Masyarakat kadang salah memahami, kekeringan dan banjir sering dianggap bencana alam, padahal bencana-bencana alam ini bukanlah suatu kondisi yang begitu saja terjadi, tetapi akibat yang muncul dari akumulasi berbagai kerusakan di bumi.
Data dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan Banyumas menunjukan kerusakan ekosistem banyak dipicu oleh aktifitas ekonomi manusia. Penebangan hutan menjadi salah satu sebab kerusakan alam. Menurut Wisnu Hermawanto, Kepala Dishutbun, setiap hari ada sekitar 500 meter kubik kayu di Banyumas yang ditebang. Jumlah tersebut setara dengan 1.500 batang pohon. Padahal, mata air membutuhkan sedikitnya 400 batang pohon sebagai penyimpan air. Jika tidak ada upaya serius untum menghentikan penebangan dan reboisasi, Wisnu memperkirakan dalam jangka waktu 5 tahun ke depan, di Banyumas sudah tidak ada lagi mata air.
Penebangan memberikan implikasi buruk bagi hutan, padahal hutan memiliki fungsi sebagai tempat penyimpanan air, berpengaruh terhadap perubahan iklim mikro, dan mampu mencegah terjadinya bencana-bencana longsor, banjir, serta melindungi kawasan di bawahnya dari angin ribut. Akibat minimnya hutan, air hujan tidak dapat tertahan sehingga lari ke lahan yang lebih rendah dengan menggerus lapisan tanah atas (top soil) yang subur. Kondisi ini memaksa petani untuk memberi pupuk kimia agar tanahnya subur. Dampaknya, berbagai zat kimia tersebut mencemari air tanah dan mempersulit warga memperoleh air bersih.
Selain kerusakan hutan, penyedotan air tanah turut memberi andil bagi kekeringan. Kualitas dan kuantitas air merosot akibat penyadapan besar-besaran guna memenuhi kebutuhan rumah tangga, industri, rumah sakit, hotel, dan restoran.

Upaya Konservasi yang Serius
Sesungguhnya, tidak sulit untuk mencegah terjadinya kerusakan ekosistem. Kita hanya memerlukan komitmen dan keingingan yang kuat untuk melaksanakan konservasi secara konsisten. Masalahnya sekarang, lingkungan tidak pernah dilihat dalam bagian yang intergral dalam pembangunan. Lingkungan telah dieksploitasi demi meningkatkan devisa dan mendongkrak pendapatan baik di daerah maupun secara nasional, namun upaya tersebut tidak dibarengi dengan penyelamatan dan rehabilitasi.

Menurut Dani Armanto, coordinator Komunitas Peduli Slamet (Kompleet) perlu langkah-langkah strategis dalam memulai usaha penyelamatan lingkungan. Pertama adalah membangun padangan bahwa lingkungan adalah bagian integral dari pembangunan. “Dampak pembangunan ekonomi terhadap lingkungan, social dan budaya harus diperhatikan. Harus ada kerangka dan mekanisme untuk meminimalisir dampak buruk pembangunan”, ujar Dani.
Investasi juga harus mendapat perhatian yang serius. Kadang investasi justru menjebak masyarakat sehingga menumpulkan kemampuan masyarakat untuk memobilisasi sumberdaya yang dimiliki. Bahkan, investasi juga medorong masyarakat untuk melepas asset yang dimiliki. Kawasan wisata Baturaden misalnya, di daerah tersebut, sebagai besar tanah sudah dimiliki oleh investor, masyarakat berbondong-bondong menjual tanahnya untuk mendapat keuntungan yang besar dalam waktu singkat. Akibatnya, masyarakat di daerah tersebut tidak dapat menjadi pemain utama dalam usaha yang banyak ada disana, mereka hanya menjadi pemain pingiran dan bertebaran di sector informal. Pemerintah tidak harus selalu mengandalkan investasi untuk membiayai pembangunan daerah, namun ada kerangka untuk memaksimalkan penggunaan asset-asset yang dimiliki masyarakat.

Untuk mengembalikannya, perlu dilakukan penataan ulang struktur agraria. Reforma agraria adalah langkah untuk mengembalikan kemampuan produksi masyarakat dalam bidang pertanian sebagai pondasi utama pembangunan daerah. Langkah dalam redistribusi asset juga harus diikuti kebijakan yang berpihak pada pembangunan pertanian misalnya, proteksi, pengembangan kapasitas sumber daya manusia petani.

Di kalangan elit pemerintahan baik legislative maupun eksekutif juga harus dilakukan gerakan pembersihan dari mafia-mafia perijinan dan proyek. Mereka inilah yang merusak kerangka pembangunan daerah. Mereka hanya mengejar keuntungan sesaat tanpa mempertimbangkan pembangunan daerah yang berkelanjutan.
Read more on this article...