Kamis, 01 Januari 2009

Dokumentasi Para Pelukis Terlarang



Media massa, berperan besar dalam mewarnai perjalanan kesenian suatu bangsa. Termasuk pergulatan ideologi dan politik di dalamnya. Seperti perjalan Sanggar Bumi Tarung, suatu kumpulan seniman yang menghayati realisme sosialis sebagai jalan berkesenian terekam dalam kliping majalah dan koran yang terbit kala itu.


PAMERAN arsip Sanggar Bumi Tarung (SBT) membawa kita pada suasa berkesenian yang bercampur baur dengan dunia politik. Aroma ideologi dan keberpihakan pada rakyat menyeruak kencang. Pada tahun 60-an, siapa yang tidak kenal Sanggar Bumi Tarung? Mereka adalah kumpulan perupa yang melukiskan ekpresi politik "kiri" dalam lukisannya. Tema lukisan mereka, tak jauh dari kehidupan buruh, petani gurem, pedagang kecil dan kaum marjinal lain.

Beberapa versi sejarah menyebut, SBT ini adalah salah satu sanggar dibawah naungan Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA), sayap Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam lapangan budaya. Mereka menghayati dengan benar aliran seni realisme sosialis, sebuah aliran kesenian yang beranggapan bahwa kesenian harus sinergis dengan realitas masyarakat dan mengabdi pada tujuan-tujuan revolusi. Definisi resminya, mungkin yang dikeluarkan oleh Vladimir Lenin, dedengkot komunisme Uni Sovyet yang menyebut aliran ini dengan seni garda depan.

Pada Jamannya, Lekra, hanya salah satu dari sekian banyak organisasi kesenian yang berafiliasi dengan sebuah aliran politik.Ada sanggar dan organisasi seperti Lembaga Kebudayan Nasional (LKN) yang merupakan sayap Partai Nasional Indonesia (PNI), Lembaga Kebudayan Kristen Indonesia (LEKRINDO) dan lain lain. Sampai akhirnya persentuhan dunia kesenian dan politik ini melahirkan pertentangan yang kemudian menjadi prahara kesenian di tanah air, Lekra berhadapan dengan Manikebu. Bisa dibayangkan, betapa ramai dunia kesenian Indonesia di masa-masa itu. Penuh gejolak, dinamika dan pertentangan, mereka melakukan ekpresi seni, sekaligus corong propaganda partai.

Pameran arsip SBT yang diselenggarakan oleh Indonesia Visual Art Archive (IVAA), 9 - 31 Desember 2008, di Jl. Patehan Tengah No. 37 Yogyakarta mencoba menghadirkan perjalanan Sanggar Bumi Tarung secara utuh. Eksistensi SBY ditunjukan dalam bentuk teks liputan media massa, dokumentasi organisasi, dan arsip perijinan pameran yang dikeluarkan pemerintah "Sebetulnya kami ingin menjelaskan bahwa Bumi Tarung tidak selalu identik dengan Lekra. Tapi mereka memang mempunyai karakter kesenian yang politis, realis dan rakyat sentris," ujar peneliti IVAA, Pitra Ayu.

Sanggar Bumi Tarung didirikan oleh nama-nama seperti adalah Amrus Natalsya, Misbach Tamrin,Ng Sembiring, Isa Hasanda, Kuslan Budiman, Djoko Pekik, Sutopo, Adrianus Gumelar, Sabri Djamal, Suharjiyo Pujanadi, Harmani, Haryatno. Kurang lebih ada 30 orang yang tercatat sebagai anggota sanggar ini. Bumi Tarung, menurut Pitra masih juga mempunyai ciri khas yang menjadi pembeda dengan Lekra. Seniman ini, hanya berafiliasi dengan Lekra, namun tidak berhubungan langsung dengan partai.

Dokumen tertua yang dipamerkan adalah publikasi Lekra tentang pandangan politiknya di tahun 1957. Dokumen propaganda tentang peran-peran lembaga kebudayaan dalam Revolusi Indonesia, tentu saja dalam pandangan Lekra. Ada juga visi misi Lekra dan ajakan untuk bergabung bersama organisasi ini. "Semacam open recruitment, Lekra berusaha menyosialisasikan diri dan mengajak seniman untuk bergabung," ujar Pitra.

Berikutnya, adalah laporan jurnalistik dari Majalah Pentja, No. 9 Tahun ke XVII tentang Sanggar Bambu. Sanggar ini sempat dianggap sebagai kubu yang berada di seberang Bumi Tarung. Waktu itu, sanggar bambu dianggap tidak memasukan politik bagi dalam tema-tema keseniannya. Mereka juga tidak mengkritisi kondisi masyarakat,
gampangnya, tidak turut dalam gegap gempita revolusi Indonesia, tentu saja versi Lekra.

"Aktifisme dalam seni rupa tidak bisa dikotak-kotakan menurut organisasi. Seniman tetap berinteraksi dan berhubungan baik secara ide maupun fisiknya. Walaupun terdapat pertentangan ideologi yang sangat kental," papar Pitra.

Pitra melakukan periodesasi seni rupa dari kajian terhadap dokumen yang terkumpul. Periode pertama adalah periode pra 65, saat para perupa Indonesia begitu dekat dengan politik. Penandanya adalah banyaknya lembaga-lembaga kebudayaan yang mempunyai afiliasi dengan partai. Periode berikutnya adalah periode 70-an, saat dunia seni rupa seolah mundur untuk memperbaiki infrastukturnya. Saat itu marak
pendirian tempat-tempat pameran, dunia kesenian menjadi sangat teknis. Pada periode ini, pengaruh rejim orde baru yang membatasi ekpresi seni juga nampak. Berikutnya di tahun 90-an, saat itu mulai muncul kembali kesenian dengan mazhab kritis yang menyerempet masalah-masalah sosial. Disebut sebagai tonggak periode ini, adalah kelompok Taring Padi, sekumpulan pelukis muda yang karya-karya seninya mewarnai gelombang demonstrasi di tahun 1998-an.

Kurator Farah Wardani, yang juga direktur IVAA menjelaskan, ada missing link dalam sejarah seni rupa Indonesia. Sejarah seni jarang mengurai secara menyeluruh hubungan antara seniman dan ideologi yang dianut, atau hubungan antara satu periode dengan periode lain.

"Sejarah seni rupa hanya mengungkap, misalnya ditahun ini ada peristiwa ini, ditahun itu ada peristiwa ini. Jarang yang mengungkap relasi antar peristiwa, misalnya kemiripan antara SBT dan Taring Padi sekarang," ujar Farah.

Pameran ini, menurut Farah, berusaha menjelaskan banyak fakta yang menarik dan penting dalam perjalan sejarah seni rupa di Indonesia. Fakta ini adalah bagian dari perkembangan seni rupa secara khusus dan posisi kesenian dalam masyarakat.

"Sejarah kesenian kita kurang pada sisi histiografi-nya. Maka ada permaknaan yang terlewat pada setiap peristiwa seni. Padahal, dunia kesenian memberi respon pada setiap peristiwa sosial. Seperti peristiwa Malapetaka Limabelas Januari yang direspon dengan Pameran Desember Hitam," ujarnya.
Read more on this article...

Senin, 22 September 2008

TRADISI NYADRAN DI TEMANGGUNG



Ramadhan sebentar lagi tiba, satu bulan sebelum ramadhan atau bulan syakban masyarakat menumpahkan sykurnya. Wujudnya bermacam-macam,utamanya adalah mendoakan arwah para leluluhur dan keluarga dekat yang terlebih dahulu menghadap sang Khaliq.


MATAHARI belum meninggi saat masyarakat dusun Pete, Desa Kembangsari, Kecamatan Kandangan berkumpul membentuk barisan panjang di depan Masjid yang mereka sebut sebagai Masjid Agung. Di barisan depan, berjejer Kepala Desa dan beberapa tetua desa. Kades yang bernama Sutiyo ini mengenakan busana jawa lengkap, pun demikian dengan para tetua desa. Di belakangnya, ratusan tenongan yang berisi nasi kuning dan ubo rampe-nya berjajar, dibelakangnya lagi, tua muda warga desa yang menggenakan pakaian terbagusnya, barisan paling belakang adalah
rombongan kesenian tradisional, seperti kuda lumping.

Mereka bersiap menyelenggarakan nyadran, ritual yang biasanya diselenggarakan besar-besaran tiap dua tahun sekali. Sejurus kemudian, Kades menaiki kuda tunggangannya. Dengan gagah dia memimpin barisan rakyatnya menuju komplek pemakaman. Letaknya kira-kira dua kilometer sebelah selatan desa.

Di komplek pemakaman ini bersemayan jazad dua sesepuh desa, yaitu Kyai Keramat dan Kyai Yudo Kusumo alias Joyo Kusumo. Dua tokoh ini diyakini sebagai orang yang meletakan cikal bakal desa. Mereka juga yang memimpin warga desa dalam
perjuangan mengusir penjajah Belanda.

Di komplek pemakaman, ratusan warga desa juga sudah menunggu iring-iringan ini. Ada juga 130 ekor kambing yang siap untuk disembelih, semua berwarna putih. "Hakekat acara ini adalah ungkapan syukur kepada sang pencipta. Setahun ini, kami telah diberi rejeki yang melimpah dan dijauhkan dari bala," ujar Kades, Sutiyoso.

Tiba di pusara Kyai Joyokusumo, Kades menyerahkan sebilah parang kepada Kayim, dia adalah perangkat desa yang mengurusi masalah-masalah keagamaan. Parang bernama Parang Joyokusumo. Konon, dengan parang inilah, Kyai Joyokusumo berjuangan mengusir penjajah Belanda yang menduduki wilayah Temanggung. Sekarang, parang ini adalah alat utama untuk menyembelih kambing-kambing yang akan dikorbankan.

Usai serah terima parang, rombongan pengusung tumpeng Argo Bugo yang juga ikut diarak dalam prosesi pawai kemudian maju mendekati kerumunan warga. Setelah diberi aba-aba, warga langsung merangsek dan meraih sekenanya nasi kuning dan hasil bumi yang menjadi susunan rangkaian tumpeng. Bersamaan, di sisi lain makam, kambing-kambing mulai disembelih, kemudian langsung dimasak di tempat itu pula.

"Kambing-kambing ini adalah sumbangan dari warga. Biasanya, setelah mereka mencapai cita-cita, mereka bernadzar menyumbang kambing pada perayaan Nyadran," ujar salah seorang sesepuh desa, Cipto.

Menurutnya, daging kambing harus dimasak di komplek makam, ada pantangan untuk membawa daging kambing yang masih mentah.

"Ambil saja positifnya dari pantangan ini, kambing-kambing itu bisa dinikmati seluruh masyarakat dengan bumbu seadanya. Kalau di rumah kan bisa dimasak macem-macem. Biar adil," ujarnya.

Acara berhenti sebentar untuk menunaikan ibadah sholat Jum'at. Ba'da Jum'at, mereka kembali lagi ke pemakaman. Kali ini acaranya lebih personal. Masing-masing keluarga membawa tenongan berisi tumpeng dan ingkung -sejenis ayam yang dibakar utuh- ke makam. Mereka kemudian menikmatinya diatas pusara para leluhur keluarga.

"Ini sebenarnya tradisi yang umum dikalangan masyarakat Jawa. Tiap menjelang ramadhan, kami selalu menziarahi makam leluhur, mendoakan arwah mereka," ujar
Cipto. (mn.latief)
Read more on this article...

Selasa, 12 Agustus 2008

MENJELANG PANEN TEMBAKAU DI TEMANGGUNG



Sebentar lagi, panen tembakau tiba, biasanya sekitar bulan juli-september. Bagi masyarakat Temanggung, musim panen tembakau berarti musim pekerjaan. Banyak hal dapat dikerjakan untuk menghadapi moment yang ngrejekeni ini. Bukan hanya para petani dan juragan tembakau, sekedar menyediakan pelepah pisang-pun bisa mendatangkan rejeki.


SEPERTI Lasiyah, perempuan asal desa Caruban, Kecamatan Kandangan. Dengan modal beberapa ratus ribu rupiah, perempuan tua ini mencoba mengadu keberuntungan dengan bisnis musiman. Memasok pelepah pisang kering, bahan utama pembuat keranjang tembakau.

Sebenarnya usaha ini adalah usaha yang rutin dilakukan tiap menjelang panen tembakau. Pelepah pisang selalu menjadi komoditi paling dicari masyarakat petani dan pedagang tembakau.

"Kebutuhan pelepah pisang sangat banyak, kalau hanya mengandalkan pasokan) dari Temanggung tidak cukup. Karena itulah saya terpikir untuk mendatangkan pelepah pisang dari luar daerah," ujar Lasiyah menceritakan asal muasal bisnis musimannya.

Tiap musim tembakau, dia berjualan, menjual pelepah pisang untuk bahan pembuatan keranjang tembakau. Kemudian, dengan bantuan kerabat dan saudaranya, Lasiyah mendatangkan pelepah pisang kering dari Semarang, Demak dan beberapa daerah di Jawa Timur. Pelepah pisang lokal, dari kawasan Temanggung dan sekitarnya juga dia datangkan.

"Pelepah kering ini saya beli Rp20 ribu per ikat besar, isinya sekitar 150 pelepah, " jelasnya.

Pelepah pisang yang didatangkan bukan sembarang pelepah. Kriterianya, kuat, ulet dan besar. Biasanya pelepah pisang yang memenuhi kriteria tersebut adalah pelepah pisang jenis Raja dan Kepok. Bersama dengan para tetangganya, pelepah pisang dengan kriteria seperi yang disebut diatas dipilah. Kemudian dilipat dan siap dipasarkan, prosesnya mudah dan sederhana. Perikat pelepah dijual dengan harga Rp30 ribu.

Biasanya, dalam satu musim tembakau, setidaknya 4 truk pelepah pisang kering dia datangkan. Menurutnya, semua pelepah pisang yang dia datangkan terjual habis. Hasilnya lumayan, bisa membantu keuangan keluarga.

"Pelepah lipat ini saya jual ke pasar-pasar di Temanggung, sebagian lagi sudah dipesan orang," paparnya.

Tahun ini menurut pengamatannya, dari musim dan cuaca dari awal penanaman hingga hari-hari menjelang panen tembakau, hasil panen diprediksi baik. Kecuali beberapa wilayah yang terkena serangan ulat daun dan akar.

Cuasa seperti ini diyakini bisa menghasilkan tembakau Srintil, suatu jenis tembakau dengan kandungan nikotin tinggi dan bisa terjual ratusan ribu rupiah perkilo.

"Kalau sudah seperti ini, biasanya berapun pelepah pisang yang saya stok, pasti habis terjual. Moga-moga ini jadi rejeki saya ya," ujarnya berharap.

Karsih, salah seorang tetangga yang membantu pekerjaannya, mengaku mendapat upah Rp20 ribu untuk satu hari kerja. Jika dia bekerja borongan upahnya Rp4 ribu ripiah untuk per pelepah lipat yang cukup untuk membuat satu keranjang tembakau.

"Ini memang kerja musiman, tidak tiap hari. Tapi hasilnya lumayan. Saya sudah tidak kuat lagi bekerja sebagai buruh tani tembakau," ujar nenek berusia 60 tahun ini.

Sejak kecil, Lasiyah, Karsih dan perempuan-perempuan lain di desa Caruban sudah akrab dengan tembakau. Sayangnya, sebagian besar dari mereka tidak bisa menaman tembakau. Apa sebab? Seperti umumnya petani di Indonesia yang berlahan sempit, tingkat kepemilikan lahan di wilayah penghasil tembakau ini juga tidak lebih dari 0,5 hektar per KK. Akhirnya mereka hanya menjadi buruh tani.

Pekerjaannya antara lain menaman dan memetik daun tembakau saat panen. Selain itu, juga ikut merajang, mengeringkan dan mengepak tembakau dalam keranjang. Tiga pekerjaan terakhir, kebanyakan dilakukan oleh kaum laki-laki, karena memerlukan keahlian khusus dan dukungan tenaga yang kuat. Namun begitu perempuan seperti Lasiyah dan Karsih tak sedikit yang ikut terlibat.

"Saya ini memang tidak punya lahan, tapi kalau musim panen, usaha pelepah pisang ini juga lumayan mendatangkan rejeki,: ujarnya terkekeh.

Dari remah-remah panen tembakau, Lasiyah, Karsih dan perempuan-perempuan lain di wilayah penghasil tembakau ini juga kecipratan rejeki. Jadi jangan tanya berapa penghasilan para petani besar dan juragan tembakau di Temanggung musim panen ini. (mn.latief)
Read more on this article...

Rabu, 16 April 2008

22 Tahun Dalam Pasungan



Marsono, 35, warga Dusun Gendungan, Desa Kemloko, Kecamatan Kranggan, Temanggung, harus melalui hari-harinya dengan dipasung. Tidak tanggung-tanggung dia telah menjalani hidup dengan rantai besi yang diikat pada sebongkah kayu selama 22 tahun, sejak umurnya masih belia.



Penyakit gila ini diderita Marsono ketika baru menginjak usia 13 tahun, saat duduk dibangku SMP. Sejak itu Marsono kerap menunjukan perilaku marah dan agresif. Kerap kedapatan tengah berteriak, memaki dan membabati tanaman milik tetangganya. Sepertinya dia ingin melampiaskan kemarahan yang dipendam sekian lama.

Menyaksikan tanamannya habis dibabat Marsono, warga setempat beramai-ramai mengikat dan memasung pria malang ini. Semenjak itu, dia menjalani hidup dalam pasungan di ruang berukuran tiga kali empat meter, bersama adiknya yang juga diduga menderita penyakit serupa. Dua anak pasangan Mardjo (alm) dengan Tuwuh, 70, ini memang dinilai sakit jiwa sejak kecil.

Berbeda dari kakaknya, Puji cenderung pendiam. Menurut keterangan warga, Puji bahkan sama sekali tak pernah mengganggu orang lain. Puji tak pernah memaki, berteriak ataupun membabat tanaman milik warga. ''Puji meninggal dalam pasungan sekitar dua tahun lalu,'' kata Ani, 36, tetangganya. Warga juga khawatir, jika Puji berulah sama dengan kakaknya.

Di rumah setengah jadi berdinding batu bata, dengan jendela dan pintu terbuka, tampak Marsono
tengah berdiri sambil berteriak-teriak layaknya orang tengah berorasi. Kedua tangannya diborgol palang besi dan kedua kakinya dijepit kayu dan lempengan besi.

Saat ditanya perihal ibunya, sejenak Marsono terdiam, lalu dia menunjuk dengan wajahnya ke arah rumah yang ditempati ibunya, tak jauh dari tempatnya berdiri. Sebelum kembali 'berpidato' di
jendela tanpa kaca, Marsono sempat mengucapkan terimakasih atas pemberian uangnya. "Matur nuwun, mas", katanya.

''Waktu SD, perilaku Marsono biasa saja seperti anak-anak lain, tidak menunjukkan kalau dia gila,'' ujar Tutuk, 35, teman sekelas Marsono sewaktu di SD. Bahkan, katanya, pada saat masuk SMP pun kondisi kejiwaan Marsono cenderung stabil. Namun belum sampai setahun Marsono duduk di bangku SMP tabiatnya berubah. Dia mulai sering ngamuk sehingga terpaksa tidak bisa melanjutkan sekolahnya. Setelah keluar dari sekolah itulah, kata Tutuk, temannya itu sering berulah dengan berteriak-teriak sendiri dan marah.

Ketika ditemui, Ny Tuwuh tidak bersedia bercerita ihwal pemasungan kedua anaknya. Perempuan itu lebih banyak diam sembari meneteskan air mata. Wanita tua itu mengaku pasrah dengan kondisi anak lelakinya. "Saya pasrah dengan apapun yang terjadi pada anak saya. Memang begitu keadaannya, kurang waras. Saya juga tidak tahu apa sebabnya. Dari pada ngamuk dan menyusahkan orang lain, lebih baik Marsono diikat saja", katanya

Karena alasan kemiskinan, orang tua Puji dan Marsono tidak mampu membawa anaknya berobat ke RS Jiwa. Bahkan ketika warga mengambil inisiatif memasung kedua putra mereka, Mardjo dan Ny Tuwuh hanya bisa pasrah dan merelakan kedua anaknya hidup dalam pasungan bertahun-tahun lamanya.
Dulu sebelum suaminya meninggal, keduanya bergantian mengantar makan dan minum untuk anaknya tiap hari. Sesekali mengganti pakaian yang sudah kotor dan berbau.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Temanggung, Masrukhi, menegaskan bahwa masalah pemasungan atas diri Marsono bukanlah tanggung-jawabnya."Itu jelas bukan tanggung jawab kami. Tanggung-jawab kami hanyalah rehabilitasi setelah pasien sakit jiwa diyatakan sembuh dan keluar dari rumah sakit jiwa,"katanya.

Hal senada juga disampaikan Dinas Kesehatan Kabupaten Temanggung. "Masalah pemasungan Marsono, bukan wewenang kami, " kata Kabid Pengamatan dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Temanggung, Edy Rakhmatto. (mn.latief)
Read more on this article...

Senin, 07 April 2008

You Must Go to Dieng Before you Die


ini versi lengkap dari liputanku yg dimuat cuma 2 paragraf di koran tempat ku bekerja..

Catatan dari Wartawan Menanam 2008
You Must Go to Dieng Before you Die

"Dieng yang saya kenal waktu saya kecil adalah kawasan yang asri, hijau, dan banyak pepohonan. Berbeda dengan kondisi Dieng sekarang, kondisinya sudah sangat berbeda, dieng sekarang gundul, mata airnya banyak yang mati, mengandung banyak sekali potensi bencana ekologis, wisatawanpun tak banyak lagi berdatangan," ujar Woro (37th). Perempuan kelahiran Dieng yang saat ini menjadi penyuluh pertanian, tampak kikuk mengutarakan unek-unek seputar tempat kelahirannya di depan Menteri Komunikasi dan Informasi, Muhammad Nuh, Gubernur Jawa Tengah, Ali Mufiz, Bupati Wonosobo Kholiq Arif, Ketua PWI Pusat Tarman Azzam, dan sejumlah tokoh nasional lain.


"Sebetulnya masih banyak lagi yang ingin saya ungkapkan, tapi aksi "Wartawan Menanam" ini saya pikir sudah cukup mewakili bahwa kita sekarang perlu segera melakukan rehabilitasi lingkungan dengan serius, namun perlu saya ingatkan, bahwa menanam itu mudah, tapi memeliharanya memerlukan upaya konsisten," tambahnya.

Woro, adalah salah satu dari ribuan orang yang hadir dalam kegiatan "Wartawan Menanam" yang dipusatkan di Objek Wisata Telaga Menjer, desa Maron, Kecamatan Garung, Wonosobo, minggu (27/01). Sebelumnya, para tokoh bersama dengan masyarakat sekitar melakukan penanaman sekitar 26.000 bibit pohon berbagai jenis di kawasan yang disebut Bukit Wartawan. Kegiatan ini merupakan awalan dari rangkaian peringatan hari pers nasional yang akan dipusatkan di semarang tanggal 7-10 Februari 2008 mendatang.

"Wartawan sekarang sudah mempunyai bukit sendiri, mereka bukan lagi sekedar tukang kritik terjadinya kerusakan alam, penggundulan hutan, pembalakan liar, deforestation, yang menjadi penyebab aneka bencana alam dari banjir, tanah longsor sampai keringnya mata air. Wartawan sudah memberi teladan bahwa spirit menanam dan menyelamatkan lingkungan bukan sekedar seremonial, tapi harus dilaksanakan secara konsisten," ujar Bupati Wonosobo Kholiq Arif.

Bupati yang juga mantan jurnalis ini, mengatakan bahwa wartawan mempunyai peran signifikan untuk mengkampanyekan upaya penyelematan lingkungan. Kapasitas wartawan dalam pemberitaan akan sangat mendukung pembentukan mental masyarakat yang mencintai, menghargai dan pada ahirnya melakukan upaya penyelamatan lingkungan secara mandiri."Seorang wartawan mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi opini publik, kemampuan harus diarahkan untuk membangun pikiran-pikiran positif mengenai gerakan konservasi dan penyelematan lingkungan lain,"ujarnya.

Telaga Menjer, adalah kawasan genangan air yang terbentuk karena cekungan bekas kawah, berada di deretan pegunungan dataran tinggi Dieng (Dieng Plateau). Air dari telaga menjadi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Garung. Dari tahun ke tahun debit airnya semakin menurun. Penurunan debit air ini, memicu kekhawatiran akan umur PLTA Garung yang semakin pendek dan kelak akan semakin memperumit masalah krisis energi. Secara umum Dieng Plateau adalah daerah penyangga penting di Jawa Tengah. Di kawasan ini terdapat Tuk Bimo Lukar, mata air Sungai Serayu yang mengaliri sedikitnya 13 Daerah Aliran Sungai di Kabupaten Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas dan Cilacap. Selain itu, karena topografinya paling tinggi, Dieng juga menjadi penyangga bagi minimal 5 daerah di bawahnya, seperti Kab Kendal, Kab Temanggung, Kab Banjarnegara, Kab Pekalongan, dan Kab Batang.

"Dieng itu jantungnya Wonosobo, dan jantungnya Jawa Tengah," ujar gubernur Jateng, Ali Mufiz. Senada dengan pejabat lain, Gubernur juga menekankan pentingnya konservasi di daerah Dieng. Menurutnya, jika lingkungan di Dieng rusak maka rusak pula lingkungan di Jawa Tengah.

Tentang rehabilitasi di Kawasan Dieng, Bupati Wonosobo mengaku sudah mempunyai skema tersendiri. Skema ini disebut skema prismatik, yaitu skema yang menghubungkan aspek sosial, ekonomi dan penyelamatan lingkungan sebagai dasar pelaksanaan upaya rehabilitasi lingkungan di Dieng. "Jangan sampai kita terjebak pada paradigma yang salah mengenai lingkungan, upaya penyelematan lingkungan tidak boleh menyingkirkan aktifitas ekonomi masyarakat" ujar Bupati.

Pihaknya akan melibatkan berbagai instansi yang bisa diajak bekerjasama menyelamatkan Dieng. Pihak pertama yang akan dilibatnya adalah Perhutani, tanah seluas 40.000 ha yang dikelola Perhutani di Daerah Dieng saat ini adalah kawasan yang bisa diwujudkan sebagai penggerak ekonomi pertanian masyarakat sekitar. "Ada banyak sekali komoditas yang bisa dikembangkan di kawasan ini. Bukan hanya Kentang yang nyata-nyata bisa merusak keseimbangan alam," jelasnya.

Berbagai jenis tanaman obat, seperti Purwaceng, Temulawak, Kunir Putih, empon-empon menurutnya akan tumbuh dan produktif jika ditanam di dearah yang mempunyai ketinggian seperti Dieng. Terpenting adalah tanaman ini meninggalkan dampak kerusakan lingkungan yang parah. "Tunggu apalagi, sudah banyak perusahaan jamu yang menunggu produk tanaman ini dari dieng, artinya masyarakat tidak perlu merasa khawatir produknya tidak laku," ujar bupati.

Revitalisasi Dieng ditunggu banyak orang, kata Tarman Azzam, Ketua PWI pusat yang menyempatkan diri berkunjung ke Dieng tiap tahun. "Ada peribahasa, berkunjunglah ke Roma sebelum mati, saya menunggu kapan saya bisa mengatakan, you must go to dieng, before you die dengan bangga' ujarnya. (m.n.latief)
. Read more on this article...