Sultan berhenti merokok. Ini Kabar baik! Tapi sepertinya sungguh sulit jadi kenyataan. Jadi begini ceritanya, di Yogyakarta ada dua pejabat publik yang jadi ahli hisap. Yaitu Pak Sultan sendiri dan walikota Yogyakarta, Pak Herry Zudianto (sekarang mantan). Pak Sultan yang saya maksud adalah Sri Sultan Hamengkubuwono X, raja keraton Ngayogyokarto Hadiningrat.
Soal rokok keduanya dikenal sebagai ahli hisap. Hampir pada setiap kesempatan mereka terlihat klepas-klepus mengepulkan asap. Pak Herry suka rokok kretek tanpa filter, kalau tidak salah itu produknya HM. Sampoerna yang sudah dibeli pabriknya rokok Marlboro. Asyik sekali kalau melihat pak Herry sedang merokok, jari-jarinya lincah memilin dan memutar rokok,sedikit ada akrobatnya lah.
Pak Sultan juga suka rokok kretek tanpa filter, satu merk ama Pak Herry. Tapi Sultan juga fanatik dengan satu produk rokok lokal, warna bungkusnya hijau bergambar logo keraton.
Rokok berbungkus hijau itu barang daganganya putri tertua Pak Sultan, Gusti Kanjeng Ratu Pembayun. Ceritanya, Agustus 2003, keluarga Keraton Ngayogyokarto Hadiningrat resmi memasuki bisnis rokok, dengan bendera PT Yogyakarta Tembakau Indonesia (YTI). Tiga putri dari lima putri Pak Sultan bebarayan (bekerjasama) mengurusinya.
Ketiga putri Ngarsa Dalem itu adalah GKR Pembayun,putri tertua ini memegang jabatan Presiden direktur. GRAy Nurmagupita berposisi sebagai Brand Manager dibantu oleh GRAy Nurkamnari Dewi. Bisnis ini serius, mereka menggandeng produsen rokok raksasa PT HM Sampoerna Tbk sebagai konsultan teknis produksi dan PT Perusahaan Dagang dan Industri Panamas sebagai distributor.
GKR Pembayun konon punya niat baik, dia ingin menyerap lebih banyak angkatan kerja di Yogyakarta. Saat awal didirikan, 100 orang sudah bekerja disana harapanya bisa lebih banyak lagi pada tahun-tahun berikutnya.
Dari sisi bisnis, rokok juga menggiurkan apalagi jenis sigaret kretek tangan (SKT). Konon inilah rokok khas Indonesia yang paling diminati. Rasanya mantap, saat dihisap bunyi kretek-kretek cengkeh terbakar membuat sensasi menikmati rokok jenis ini semakin tak ternilai. Ada kepuasan yang tak bisa dipahami oleh pendukung fatwa haram rokok.
Dulu rokok jenis ini sempat menguasai, 24,9% pasar rokok, kemudian naik menjadi 26,3%. Bagi industri, inilah pasar yang empuk yang menggiurkan, apalagi secara umum kebiasaan merokok selalu meningkat dari tahun-ketahun. Tak beda dengan pebisnis lain, keluarga keraton pun nyemplung ke bisnis ini.
Ada satu lagi yang menggiurkan bagi keraton, ternyata bahan baku rokok ini diambil dari kebun tembakau yang terletak di atas Sultan Ground, masuk wilayah Kabupaten Bantul. Efesiensi produksi yang luar biasa bukan?
Sebagai pebisnis, keluarga HB kesepuluh ini memang paling agresif memanfaatkan Sultan Ground, terutama ditangan putri-putrinya. Aset-aset ekonomi yang mereka punyai antara lain, pabrik gula Madukismo di Bantul, kemudian kebun tembakau di Ganjuran Bantul. Selain itu ada budidaya ulat sutera PT Yarsilk Gora Mahottama di Desa Karangtengah, Kecamatan Imogiri, Bantul; serta tambak udang PT Indokor Bangun Desa di pantai Kuwaru, Bantul. Ada juga potensi ekonomi paling besar, yaitu penambangan pasir besi yang saat ini diurus oleh PT. Jogja Magasa Internatinoal di pesisir Kulonprogo.
Namun belakangan, perusahaan rokok ini sepertinya berhenti berproduksi. Lantas darimana Pak Sultan bisa mendapatkan rokok gambar lambang keraton itu? “Oh itu beliau sudah punya stok banyak, disimpan sendiri,”ujar Mas Aceng, ajudan Sultan.
Jadi pahamkan mengapa Pak Sultan suka rokok berbungkus hijau itu? Tentu biar dagangan anaknya laris. Kembali ke soal hobi merokok Pak Sultan. Saya pernah iseng-iseng nanya ke Pak Sultan, kapan akan berhenti merokok? Ngarso Dalem Cuma mesam mesem saja.
"Nanti, nek mangsane mandeg yo mandeg (kalau waktunya berhenti ya berhenti),"ujarnya.
mnlatief
Read more on this article...
Kamis, 22 Desember 2011
Sultan Berhenti Merokok?
Diposting oleh
Muhammad Nazarudin Latief
di
00.30
1 komentar
Label: Jogja yang Kucinta
Jumat, 02 September 2011
Ilusi Idealisme
"Tak ada yang menodongkan pistol ke kepala dan memaksa Anda menjadi jurnalis. Anda datang atas kemauan sendiri, karena Anda mencintai dunia tulis-menulis."
SAYA tiba-tiba merasa harus searching versi lengkap kutipan diatas, yang disusun dari pikiran-pikiran jurnalis senior. Dia seorang jurnalis kondang, jauh diatas kami para jurnalis kemarin sore. Kemudian dengan bantuan Google, artikel berjudul "Menjadi Wartawan" serta merta terhidang di layar computer jinjing saya.
Mari kita ambil pelajaran dari artikel tersebut. Jika tidak ada yang menodongkan pistol ke kepala saat memulai karir menjadi jurnalis, maka tak ada jua yang melempar granat saat memutuskan tidak lagi menggeluti pekerjaan yang isinya liputan dan menulis melulu itu bukan? (Termasuk, menurut artikel itu, memberi asupan buku setiap hari pada otak, memberi makna pada tiap angka, memikirkan pembaca dan tidak stereotyping). Pendeknya, penuh kemerdekaan dalam memilih, seperti yang diandaikan oleh Marx muda saat memilih karir di Jerman sana. (jadi teringat bacaan lama, Reflections of a Young Man on The Choice of a Profession)
Syahdan, pada suatu dinihari yang dingin, seorang teman menelephone. Bertutur mantap bahwa, keputusannya untuk berhenti menjadi jurnalis sudah bulat, pun surat pengunduran diri keesokan harinya dikirim.
Sejurus kemudian, saya mahfum. Inilah momentum, saat kemerdekaan, dasar profesi jurnalisme meronta meminta eksistensi. Memilih menjadi atau tidak menjadi jurnalis sama mudahnya dengan memilih minum kopi hitam pekat atau sedikit tambahan kreamer. (sebenarnya tidak sesedehana itu..)
Jadi begini, kami, para jurnalis juga terlibat dalam hubungan industrial yang mengandaikan pemenuhan hak-hak normative kaum buruh. Apa bentuknya? Ya itulah, spanduk dan baliho perayaan May Day tiap tahun sudah terang benderang menjelaskan. (gara-gara pansus Century kata “terang benderang” ini jadi ngetren). Begitulah, seperti sudah menjadi kesepakatan, bahwa menjadi jurnalis artinya siap untuk hidup biasa-biasa saja. Maksutnya, serba terbatas begitu.
Soal ini, pak Rosihan Anwar, sang maestro jurnalisme Indonesia, sebenarnya sudah begitu terang benderang (lagi? benar-benar kena demam pansus Century neh!) membahas kesehahteraan pegiat jurnalisme. Dia, yang termasuk segelintir orang-orang beruntung bisa menjadi saksi perkembangan pers di tanah air dari jaman pra kemerdekaan menegaskan bahwa jurnalis mengabdi pada fakta.
"Wartawan harus objektif dan melindungi kenyataan. Fakta itu suci. Jangan gadaikan idealisme meski kesejahteraan rendah," begitu kata Pak Rosihan sebagaimana termuat pada salah satu harian nasional. Karya jurnalistik yang dicapai dengan penuh perjuangan membuat Rosihan begitu bangga dan bahagia. Karena itulah, idealisme sebagai wartawan tidak pernah luntur.
Aduh..Pak Rosihan, dengan segala rasa hormat, petuah mulia bapak bukan tidak bermakna. Tapi, rasanya kok malah berada pada sisi seberang sana ya? Sisi para pemilik industri media yang sebentar-sebentar oplah, iklan, oplah, iklan.
Maaf Pak Rosihan, bukankah tenggelam dalam idealisme malah menyeret kita pada ilusi? Membuat kita berpaling dari persoalaan di depan mata, yaitu kesejahteraan yang cekak. Kemudian beralih menjadi mantra pengabdian profesi atau dongeng suci para penyebar fakta. Tapi kami berterimakasih, selalu mengingatkan untuk menjadi professional dan berintegritas.
Jurnalis jaman sekarang menghadapi industri media yang kejam. Sekejam Sang Rama yang ragu kesucian Dewi Shinta, sehingga harus dibuktikan pada bara api. Kejam bukan? Karena loyalitas dan pengabdian tak terhargai? Seperti perangkat, dengan mudah diganti diganti yang baru jika sudah usang.
Selamat Hari Pers Nasional kawan, atau setidaknya selamat ulang tahun PWI. (Mumpung masih bulan februari)
Read more on this article...
Diposting oleh
Muhammad Nazarudin Latief
di
21.02
0
komentar
Gak Usah Tirakatan
Suatu saat kami terlibat obrolan tentang tirakatan. Kok tiba-tiba temanya tirakatan? Gampang saja, esoknya kan seluruh bangsa ini memperingati peristiwa besar pada halaman sebuah rumah di Jalan Pegangsaan No 56 Jakarta, kita menyebutnya dengan proklamasi kemerdekaan.
“Tirakatan itu hanya bisa dipahami setelah kamu menikah,”ujar Priyo. Priyo ini, teman sekantor saya yang bekerja di desk Bantul.
Wedew, apa-apan ini? Mengapa tiba-tiba ada hubungan antara tirakatan dan menikah? Mak jleeeb, jawaban Priyo jelas-jelas mengusik eksistensi sebagai saya, lajang usia tigapuluhan tahun. Ditambah tawa girang kawan-kawan di ruang redaksi menyukuri wajah saya yang tiba-tiba jadi nekuk-nekuk.
Ternyata, kaum bapak-bapak di kampung-lah yang merancang tirakatan. Tentu dengan iuran secukupnya untuk biaya penyelenggaraan. Kalau ada tirakatan berarti ada iuran RT ekstra, dan yang ditagih iuran itu hanya bapak-bapak yang telah berkeluarga.
Lajang, lolos! Ini dia ternyata maksud jawaban Mas Priyo Mardikenyo! Makna tirakatan di malam kemerdekaan adalah mengikuti rapat RT berkali-kali dan pada akhirnya membayar iuran bulanan ekstra di bulan Agustus. Itu saja! Gawat! Bagaimana jika hal itu adalah persepsi dari 1000 orang bapak-bapak terhadap perayaan hari kemerdekaan?
Jika semua bapak-bapak berpikiran seperti ini, apakabar nasionalisme Indonesia? Bayangkan, saat kerjaan susah, susu mahal, biaya sekolah selangit, deg-degan kena gas mleduk, apa-apa mahal, tambahan iuran RT (bahkan saat tanggal masih muda) menjadi sangat menyebalkan. Mungkin benar kata orang pintar, pada jaman yang makin susah perilaku orang menjadi semakin individualis. TIdak gampang, ngomong nasionalisme saat neoliberalisme merasuk ke sumsum dan kita dilanda kapitalisme akut.
Sudahlah saudara-saudara. Apa seh untungnya berbuih-buih tentang nasionalisme sekarang ini. Toh, dari awal nasionalisme adalah sentimen sebagai bangsa unggul dan terpilih masyarakat Ibrani Kuno. Berkembang di Eropa kemudian dibawa ke tanah jajahan, yang intinya adalah membangga-banggakan bangsa sendiri. Sekarang apa gunanya mempunyai kebanggaan (semu)? Sementara kita tidak punya wibawa internasional. Tiga petugas Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) yang ditangkap saat menjalankan tugas negara ditukar dengan maling ikan (benar-benar diplomasi yang aneh).
Baiklah, ikuti saja siklus jaman. Saat ini konon kita sedang berada dalam fase tertinggi kapitalisme, yaitu neoliberalisme. Konon juga, krisis akan menghancurkannya, dan kita akan kembali memutari sejarah. Jadi, gak usah lah tirakatan tiap tahun, mengurangi jatah buat beli susu anak saja !
Read more on this article...
Diposting oleh
Muhammad Nazarudin Latief
di
20.44
0
komentar
Kamis, 01 Januari 2009
Dokumentasi Para Pelukis Terlarang
Media massa, berperan besar dalam mewarnai perjalanan kesenian suatu bangsa. Termasuk pergulatan ideologi dan politik di dalamnya. Seperti perjalan Sanggar Bumi Tarung, suatu kumpulan seniman yang menghayati realisme sosialis sebagai jalan berkesenian terekam dalam kliping majalah dan koran yang terbit kala itu.
PAMERAN arsip Sanggar Bumi Tarung (SBT) membawa kita pada suasa berkesenian yang bercampur baur dengan dunia politik. Aroma ideologi dan keberpihakan pada rakyat menyeruak kencang. Pada tahun 60-an, siapa yang tidak kenal Sanggar Bumi Tarung? Mereka adalah kumpulan perupa yang melukiskan ekpresi politik "kiri" dalam lukisannya. Tema lukisan mereka, tak jauh dari kehidupan buruh, petani gurem, pedagang kecil dan kaum marjinal lain.
Beberapa versi sejarah menyebut, SBT ini adalah salah satu sanggar dibawah naungan Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA), sayap Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam lapangan budaya. Mereka menghayati dengan benar aliran seni realisme sosialis, sebuah aliran kesenian yang beranggapan bahwa kesenian harus sinergis dengan realitas masyarakat dan mengabdi pada tujuan-tujuan revolusi. Definisi resminya, mungkin yang dikeluarkan oleh Vladimir Lenin, dedengkot komunisme Uni Sovyet yang menyebut aliran ini dengan seni garda depan.
Pada Jamannya, Lekra, hanya salah satu dari sekian banyak organisasi kesenian yang berafiliasi dengan sebuah aliran politik.Ada sanggar dan organisasi seperti Lembaga Kebudayan Nasional (LKN) yang merupakan sayap Partai Nasional Indonesia (PNI), Lembaga Kebudayan Kristen Indonesia (LEKRINDO) dan lain lain. Sampai akhirnya persentuhan dunia kesenian dan politik ini melahirkan pertentangan yang kemudian menjadi prahara kesenian di tanah air, Lekra berhadapan dengan Manikebu. Bisa dibayangkan, betapa ramai dunia kesenian Indonesia di masa-masa itu. Penuh gejolak, dinamika dan pertentangan, mereka melakukan ekpresi seni, sekaligus corong propaganda partai.
Pameran arsip SBT yang diselenggarakan oleh Indonesia Visual Art Archive (IVAA), 9 - 31 Desember 2008, di Jl. Patehan Tengah No. 37 Yogyakarta mencoba menghadirkan perjalanan Sanggar Bumi Tarung secara utuh. Eksistensi SBY ditunjukan dalam bentuk teks liputan media massa, dokumentasi organisasi, dan arsip perijinan pameran yang dikeluarkan pemerintah "Sebetulnya kami ingin menjelaskan bahwa Bumi Tarung tidak selalu identik dengan Lekra. Tapi mereka memang mempunyai karakter kesenian yang politis, realis dan rakyat sentris," ujar peneliti IVAA, Pitra Ayu.
Sanggar Bumi Tarung didirikan oleh nama-nama seperti adalah Amrus Natalsya, Misbach Tamrin,Ng Sembiring, Isa Hasanda, Kuslan Budiman, Djoko Pekik, Sutopo, Adrianus Gumelar, Sabri Djamal, Suharjiyo Pujanadi, Harmani, Haryatno. Kurang lebih ada 30 orang yang tercatat sebagai anggota sanggar ini. Bumi Tarung, menurut Pitra masih juga mempunyai ciri khas yang menjadi pembeda dengan Lekra. Seniman ini, hanya berafiliasi dengan Lekra, namun tidak berhubungan langsung dengan partai.
Dokumen tertua yang dipamerkan adalah publikasi Lekra tentang pandangan politiknya di tahun 1957. Dokumen propaganda tentang peran-peran lembaga kebudayaan dalam Revolusi Indonesia, tentu saja dalam pandangan Lekra. Ada juga visi misi Lekra dan ajakan untuk bergabung bersama organisasi ini. "Semacam open recruitment, Lekra berusaha menyosialisasikan diri dan mengajak seniman untuk bergabung," ujar Pitra.
Berikutnya, adalah laporan jurnalistik dari Majalah Pentja, No. 9 Tahun ke XVII tentang Sanggar Bambu. Sanggar ini sempat dianggap sebagai kubu yang berada di seberang Bumi Tarung. Waktu itu, sanggar bambu dianggap tidak memasukan politik bagi dalam tema-tema keseniannya. Mereka juga tidak mengkritisi kondisi masyarakat,
gampangnya, tidak turut dalam gegap gempita revolusi Indonesia, tentu saja versi Lekra.
"Aktifisme dalam seni rupa tidak bisa dikotak-kotakan menurut organisasi. Seniman tetap berinteraksi dan berhubungan baik secara ide maupun fisiknya. Walaupun terdapat pertentangan ideologi yang sangat kental," papar Pitra.
Pitra melakukan periodesasi seni rupa dari kajian terhadap dokumen yang terkumpul. Periode pertama adalah periode pra 65, saat para perupa Indonesia begitu dekat dengan politik. Penandanya adalah banyaknya lembaga-lembaga kebudayaan yang mempunyai afiliasi dengan partai. Periode berikutnya adalah periode 70-an, saat dunia seni rupa seolah mundur untuk memperbaiki infrastukturnya. Saat itu marak
pendirian tempat-tempat pameran, dunia kesenian menjadi sangat teknis. Pada periode ini, pengaruh rejim orde baru yang membatasi ekpresi seni juga nampak. Berikutnya di tahun 90-an, saat itu mulai muncul kembali kesenian dengan mazhab kritis yang menyerempet masalah-masalah sosial. Disebut sebagai tonggak periode ini, adalah kelompok Taring Padi, sekumpulan pelukis muda yang karya-karya seninya mewarnai gelombang demonstrasi di tahun 1998-an.
Kurator Farah Wardani, yang juga direktur IVAA menjelaskan, ada missing link dalam sejarah seni rupa Indonesia. Sejarah seni jarang mengurai secara menyeluruh hubungan antara seniman dan ideologi yang dianut, atau hubungan antara satu periode dengan periode lain.
"Sejarah seni rupa hanya mengungkap, misalnya ditahun ini ada peristiwa ini, ditahun itu ada peristiwa ini. Jarang yang mengungkap relasi antar peristiwa, misalnya kemiripan antara SBT dan Taring Padi sekarang," ujar Farah.
Pameran ini, menurut Farah, berusaha menjelaskan banyak fakta yang menarik dan penting dalam perjalan sejarah seni rupa di Indonesia. Fakta ini adalah bagian dari perkembangan seni rupa secara khusus dan posisi kesenian dalam masyarakat.
"Sejarah kesenian kita kurang pada sisi histiografi-nya. Maka ada permaknaan yang terlewat pada setiap peristiwa seni. Padahal, dunia kesenian memberi respon pada setiap peristiwa sosial. Seperti peristiwa Malapetaka Limabelas Januari yang direspon dengan Pameran Desember Hitam," ujarnya.
Read more on this article...
Diposting oleh
Muhammad Nazarudin Latief
di
18.14
2
komentar
Senin, 22 September 2008
TRADISI NYADRAN DI TEMANGGUNG
Ramadhan sebentar lagi tiba, satu bulan sebelum ramadhan atau bulan syakban masyarakat menumpahkan sykurnya. Wujudnya bermacam-macam,utamanya adalah mendoakan arwah para leluluhur dan keluarga dekat yang terlebih dahulu menghadap sang Khaliq.
MATAHARI belum meninggi saat masyarakat dusun Pete, Desa Kembangsari, Kecamatan Kandangan berkumpul membentuk barisan panjang di depan Masjid yang mereka sebut sebagai Masjid Agung. Di barisan depan, berjejer Kepala Desa dan beberapa tetua desa. Kades yang bernama Sutiyo ini mengenakan busana jawa lengkap, pun demikian dengan para tetua desa. Di belakangnya, ratusan tenongan yang berisi nasi kuning dan ubo rampe-nya berjajar, dibelakangnya lagi, tua muda warga desa yang menggenakan pakaian terbagusnya, barisan paling belakang adalah
rombongan kesenian tradisional, seperti kuda lumping.
Mereka bersiap menyelenggarakan nyadran, ritual yang biasanya diselenggarakan besar-besaran tiap dua tahun sekali. Sejurus kemudian, Kades menaiki kuda tunggangannya. Dengan gagah dia memimpin barisan rakyatnya menuju komplek pemakaman. Letaknya kira-kira dua kilometer sebelah selatan desa.
Di komplek pemakaman ini bersemayan jazad dua sesepuh desa, yaitu Kyai Keramat dan Kyai Yudo Kusumo alias Joyo Kusumo. Dua tokoh ini diyakini sebagai orang yang meletakan cikal bakal desa. Mereka juga yang memimpin warga desa dalam
perjuangan mengusir penjajah Belanda.
Di komplek pemakaman, ratusan warga desa juga sudah menunggu iring-iringan ini. Ada juga 130 ekor kambing yang siap untuk disembelih, semua berwarna putih. "Hakekat acara ini adalah ungkapan syukur kepada sang pencipta. Setahun ini, kami telah diberi rejeki yang melimpah dan dijauhkan dari bala," ujar Kades, Sutiyoso.
Tiba di pusara Kyai Joyokusumo, Kades menyerahkan sebilah parang kepada Kayim, dia adalah perangkat desa yang mengurusi masalah-masalah keagamaan. Parang bernama Parang Joyokusumo. Konon, dengan parang inilah, Kyai Joyokusumo berjuangan mengusir penjajah Belanda yang menduduki wilayah Temanggung. Sekarang, parang ini adalah alat utama untuk menyembelih kambing-kambing yang akan dikorbankan.
Usai serah terima parang, rombongan pengusung tumpeng Argo Bugo yang juga ikut diarak dalam prosesi pawai kemudian maju mendekati kerumunan warga. Setelah diberi aba-aba, warga langsung merangsek dan meraih sekenanya nasi kuning dan hasil bumi yang menjadi susunan rangkaian tumpeng. Bersamaan, di sisi lain makam, kambing-kambing mulai disembelih, kemudian langsung dimasak di tempat itu pula.
"Kambing-kambing ini adalah sumbangan dari warga. Biasanya, setelah mereka mencapai cita-cita, mereka bernadzar menyumbang kambing pada perayaan Nyadran," ujar salah seorang sesepuh desa, Cipto.
Menurutnya, daging kambing harus dimasak di komplek makam, ada pantangan untuk membawa daging kambing yang masih mentah.
"Ambil saja positifnya dari pantangan ini, kambing-kambing itu bisa dinikmati seluruh masyarakat dengan bumbu seadanya. Kalau di rumah kan bisa dimasak macem-macem. Biar adil," ujarnya.
Acara berhenti sebentar untuk menunaikan ibadah sholat Jum'at. Ba'da Jum'at, mereka kembali lagi ke pemakaman. Kali ini acaranya lebih personal. Masing-masing keluarga membawa tenongan berisi tumpeng dan ingkung -sejenis ayam yang dibakar utuh- ke makam. Mereka kemudian menikmatinya diatas pusara para leluhur keluarga.
"Ini sebenarnya tradisi yang umum dikalangan masyarakat Jawa. Tiap menjelang ramadhan, kami selalu menziarahi makam leluhur, mendoakan arwah mereka," ujar
Cipto. (mn.latief)
Read more on this article...
Diposting oleh
Muhammad Nazarudin Latief
di
00.11
0
komentar
Selasa, 12 Agustus 2008
MENJELANG PANEN TEMBAKAU DI TEMANGGUNG
Sebentar lagi, panen tembakau tiba, biasanya sekitar bulan juli-september. Bagi masyarakat Temanggung, musim panen tembakau berarti musim pekerjaan. Banyak hal dapat dikerjakan untuk menghadapi moment yang ngrejekeni ini. Bukan hanya para petani dan juragan tembakau, sekedar menyediakan pelepah pisang-pun bisa mendatangkan rejeki.
SEPERTI Lasiyah, perempuan asal desa Caruban, Kecamatan Kandangan. Dengan modal beberapa ratus ribu rupiah, perempuan tua ini mencoba mengadu keberuntungan dengan bisnis musiman. Memasok pelepah pisang kering, bahan utama pembuat keranjang tembakau.
Sebenarnya usaha ini adalah usaha yang rutin dilakukan tiap menjelang panen tembakau. Pelepah pisang selalu menjadi komoditi paling dicari masyarakat petani dan pedagang tembakau.
"Kebutuhan pelepah pisang sangat banyak, kalau hanya mengandalkan pasokan) dari Temanggung tidak cukup. Karena itulah saya terpikir untuk mendatangkan pelepah pisang dari luar daerah," ujar Lasiyah menceritakan asal muasal bisnis musimannya.
Tiap musim tembakau, dia berjualan, menjual pelepah pisang untuk bahan pembuatan keranjang tembakau. Kemudian, dengan bantuan kerabat dan saudaranya, Lasiyah mendatangkan pelepah pisang kering dari Semarang, Demak dan beberapa daerah di Jawa Timur. Pelepah pisang lokal, dari kawasan Temanggung dan sekitarnya juga dia datangkan.
"Pelepah kering ini saya beli Rp20 ribu per ikat besar, isinya sekitar 150 pelepah, " jelasnya.
Pelepah pisang yang didatangkan bukan sembarang pelepah. Kriterianya, kuat, ulet dan besar. Biasanya pelepah pisang yang memenuhi kriteria tersebut adalah pelepah pisang jenis Raja dan Kepok. Bersama dengan para tetangganya, pelepah pisang dengan kriteria seperi yang disebut diatas dipilah. Kemudian dilipat dan siap dipasarkan, prosesnya mudah dan sederhana. Perikat pelepah dijual dengan harga Rp30 ribu.
Biasanya, dalam satu musim tembakau, setidaknya 4 truk pelepah pisang kering dia datangkan. Menurutnya, semua pelepah pisang yang dia datangkan terjual habis. Hasilnya lumayan, bisa membantu keuangan keluarga.
"Pelepah lipat ini saya jual ke pasar-pasar di Temanggung, sebagian lagi sudah dipesan orang," paparnya.
Tahun ini menurut pengamatannya, dari musim dan cuaca dari awal penanaman hingga hari-hari menjelang panen tembakau, hasil panen diprediksi baik. Kecuali beberapa wilayah yang terkena serangan ulat daun dan akar.
Cuasa seperti ini diyakini bisa menghasilkan tembakau Srintil, suatu jenis tembakau dengan kandungan nikotin tinggi dan bisa terjual ratusan ribu rupiah perkilo.
"Kalau sudah seperti ini, biasanya berapun pelepah pisang yang saya stok, pasti habis terjual. Moga-moga ini jadi rejeki saya ya," ujarnya berharap.
Karsih, salah seorang tetangga yang membantu pekerjaannya, mengaku mendapat upah Rp20 ribu untuk satu hari kerja. Jika dia bekerja borongan upahnya Rp4 ribu ripiah untuk per pelepah lipat yang cukup untuk membuat satu keranjang tembakau.
"Ini memang kerja musiman, tidak tiap hari. Tapi hasilnya lumayan. Saya sudah tidak kuat lagi bekerja sebagai buruh tani tembakau," ujar nenek berusia 60 tahun ini.
Sejak kecil, Lasiyah, Karsih dan perempuan-perempuan lain di desa Caruban sudah akrab dengan tembakau. Sayangnya, sebagian besar dari mereka tidak bisa menaman tembakau. Apa sebab? Seperti umumnya petani di Indonesia yang berlahan sempit, tingkat kepemilikan lahan di wilayah penghasil tembakau ini juga tidak lebih dari 0,5 hektar per KK. Akhirnya mereka hanya menjadi buruh tani.
Pekerjaannya antara lain menaman dan memetik daun tembakau saat panen. Selain itu, juga ikut merajang, mengeringkan dan mengepak tembakau dalam keranjang. Tiga pekerjaan terakhir, kebanyakan dilakukan oleh kaum laki-laki, karena memerlukan keahlian khusus dan dukungan tenaga yang kuat. Namun begitu perempuan seperti Lasiyah dan Karsih tak sedikit yang ikut terlibat.
"Saya ini memang tidak punya lahan, tapi kalau musim panen, usaha pelepah pisang ini juga lumayan mendatangkan rejeki,: ujarnya terkekeh.
Dari remah-remah panen tembakau, Lasiyah, Karsih dan perempuan-perempuan lain di wilayah penghasil tembakau ini juga kecipratan rejeki. Jadi jangan tanya berapa penghasilan para petani besar dan juragan tembakau di Temanggung musim panen ini. (mn.latief)
Read more on this article...
Diposting oleh
Muhammad Nazarudin Latief
di
18.08
1 komentar
Rabu, 16 April 2008
22 Tahun Dalam Pasungan
Marsono, 35, warga Dusun Gendungan, Desa Kemloko, Kecamatan Kranggan, Temanggung, harus melalui hari-harinya dengan dipasung. Tidak tanggung-tanggung dia telah menjalani hidup dengan rantai besi yang diikat pada sebongkah kayu selama 22 tahun, sejak umurnya masih belia.
Penyakit gila ini diderita Marsono ketika baru menginjak usia 13 tahun, saat duduk dibangku SMP. Sejak itu Marsono kerap menunjukan perilaku marah dan agresif. Kerap kedapatan tengah berteriak, memaki dan membabati tanaman milik tetangganya. Sepertinya dia ingin melampiaskan kemarahan yang dipendam sekian lama.
Menyaksikan tanamannya habis dibabat Marsono, warga setempat beramai-ramai mengikat dan memasung pria malang ini. Semenjak itu, dia menjalani hidup dalam pasungan di ruang berukuran tiga kali empat meter, bersama adiknya yang juga diduga menderita penyakit serupa. Dua anak pasangan Mardjo (alm) dengan Tuwuh, 70, ini memang dinilai sakit jiwa sejak kecil.
Berbeda dari kakaknya, Puji cenderung pendiam. Menurut keterangan warga, Puji bahkan sama sekali tak pernah mengganggu orang lain. Puji tak pernah memaki, berteriak ataupun membabat tanaman milik warga. ''Puji meninggal dalam pasungan sekitar dua tahun lalu,'' kata Ani, 36, tetangganya. Warga juga khawatir, jika Puji berulah sama dengan kakaknya.
Di rumah setengah jadi berdinding batu bata, dengan jendela dan pintu terbuka, tampak Marsono
tengah berdiri sambil berteriak-teriak layaknya orang tengah berorasi. Kedua tangannya diborgol palang besi dan kedua kakinya dijepit kayu dan lempengan besi.
Saat ditanya perihal ibunya, sejenak Marsono terdiam, lalu dia menunjuk dengan wajahnya ke arah rumah yang ditempati ibunya, tak jauh dari tempatnya berdiri. Sebelum kembali 'berpidato' di
jendela tanpa kaca, Marsono sempat mengucapkan terimakasih atas pemberian uangnya. "Matur nuwun, mas", katanya.
''Waktu SD, perilaku Marsono biasa saja seperti anak-anak lain, tidak menunjukkan kalau dia gila,'' ujar Tutuk, 35, teman sekelas Marsono sewaktu di SD. Bahkan, katanya, pada saat masuk SMP pun kondisi kejiwaan Marsono cenderung stabil. Namun belum sampai setahun Marsono duduk di bangku SMP tabiatnya berubah. Dia mulai sering ngamuk sehingga terpaksa tidak bisa melanjutkan sekolahnya. Setelah keluar dari sekolah itulah, kata Tutuk, temannya itu sering berulah dengan berteriak-teriak sendiri dan marah.
Ketika ditemui, Ny Tuwuh tidak bersedia bercerita ihwal pemasungan kedua anaknya. Perempuan itu lebih banyak diam sembari meneteskan air mata. Wanita tua itu mengaku pasrah dengan kondisi anak lelakinya. "Saya pasrah dengan apapun yang terjadi pada anak saya. Memang begitu keadaannya, kurang waras. Saya juga tidak tahu apa sebabnya. Dari pada ngamuk dan menyusahkan orang lain, lebih baik Marsono diikat saja", katanya
Karena alasan kemiskinan, orang tua Puji dan Marsono tidak mampu membawa anaknya berobat ke RS Jiwa. Bahkan ketika warga mengambil inisiatif memasung kedua putra mereka, Mardjo dan Ny Tuwuh hanya bisa pasrah dan merelakan kedua anaknya hidup dalam pasungan bertahun-tahun lamanya.
Dulu sebelum suaminya meninggal, keduanya bergantian mengantar makan dan minum untuk anaknya tiap hari. Sesekali mengganti pakaian yang sudah kotor dan berbau.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Temanggung, Masrukhi, menegaskan bahwa masalah pemasungan atas diri Marsono bukanlah tanggung-jawabnya."Itu jelas bukan tanggung jawab kami. Tanggung-jawab kami hanyalah rehabilitasi setelah pasien sakit jiwa diyatakan sembuh dan keluar dari rumah sakit jiwa,"katanya.
Hal senada juga disampaikan Dinas Kesehatan Kabupaten Temanggung. "Masalah pemasungan Marsono, bukan wewenang kami, " kata Kabid Pengamatan dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Temanggung, Edy Rakhmatto. (mn.latief)
Read more on this article...
Diposting oleh
Muhammad Nazarudin Latief
di
18.11
0
komentar
Senin, 07 April 2008
You Must Go to Dieng Before you Die

ini versi lengkap dari liputanku yg dimuat cuma 2 paragraf di koran tempat ku bekerja..
Catatan dari Wartawan Menanam 2008
You Must Go to Dieng Before you Die
"Dieng yang saya kenal waktu saya kecil adalah kawasan yang asri, hijau, dan banyak pepohonan. Berbeda dengan kondisi Dieng sekarang, kondisinya sudah sangat berbeda, dieng sekarang gundul, mata airnya banyak yang mati, mengandung banyak sekali potensi bencana ekologis, wisatawanpun tak banyak lagi berdatangan," ujar Woro (37th). Perempuan kelahiran Dieng yang saat ini menjadi penyuluh pertanian, tampak kikuk mengutarakan unek-unek seputar tempat kelahirannya di depan Menteri Komunikasi dan Informasi, Muhammad Nuh, Gubernur Jawa Tengah, Ali Mufiz, Bupati Wonosobo Kholiq Arif, Ketua PWI Pusat Tarman Azzam, dan sejumlah tokoh nasional lain.
"Sebetulnya masih banyak lagi yang ingin saya ungkapkan, tapi aksi "Wartawan Menanam" ini saya pikir sudah cukup mewakili bahwa kita sekarang perlu segera melakukan rehabilitasi lingkungan dengan serius, namun perlu saya ingatkan, bahwa menanam itu mudah, tapi memeliharanya memerlukan upaya konsisten," tambahnya.
Woro, adalah salah satu dari ribuan orang yang hadir dalam kegiatan "Wartawan Menanam" yang dipusatkan di Objek Wisata Telaga Menjer, desa Maron, Kecamatan Garung, Wonosobo, minggu (27/01). Sebelumnya, para tokoh bersama dengan masyarakat sekitar melakukan penanaman sekitar 26.000 bibit pohon berbagai jenis di kawasan yang disebut Bukit Wartawan. Kegiatan ini merupakan awalan dari rangkaian peringatan hari pers nasional yang akan dipusatkan di semarang tanggal 7-10 Februari 2008 mendatang.
"Wartawan sekarang sudah mempunyai bukit sendiri, mereka bukan lagi sekedar tukang kritik terjadinya kerusakan alam, penggundulan hutan, pembalakan liar, deforestation, yang menjadi penyebab aneka bencana alam dari banjir, tanah longsor sampai keringnya mata air. Wartawan sudah memberi teladan bahwa spirit menanam dan menyelamatkan lingkungan bukan sekedar seremonial, tapi harus dilaksanakan secara konsisten," ujar Bupati Wonosobo Kholiq Arif.
Bupati yang juga mantan jurnalis ini, mengatakan bahwa wartawan mempunyai peran signifikan untuk mengkampanyekan upaya penyelematan lingkungan. Kapasitas wartawan dalam pemberitaan akan sangat mendukung pembentukan mental masyarakat yang mencintai, menghargai dan pada ahirnya melakukan upaya penyelamatan lingkungan secara mandiri."Seorang wartawan mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi opini publik, kemampuan harus diarahkan untuk membangun pikiran-pikiran positif mengenai gerakan konservasi dan penyelematan lingkungan lain,"ujarnya.
Telaga Menjer, adalah kawasan genangan air yang terbentuk karena cekungan bekas kawah, berada di deretan pegunungan dataran tinggi Dieng (Dieng Plateau). Air dari telaga menjadi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Garung. Dari tahun ke tahun debit airnya semakin menurun. Penurunan debit air ini, memicu kekhawatiran akan umur PLTA Garung yang semakin pendek dan kelak akan semakin memperumit masalah krisis energi. Secara umum Dieng Plateau adalah daerah penyangga penting di Jawa Tengah. Di kawasan ini terdapat Tuk Bimo Lukar, mata air Sungai Serayu yang mengaliri sedikitnya 13 Daerah Aliran Sungai di Kabupaten Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas dan Cilacap. Selain itu, karena topografinya paling tinggi, Dieng juga menjadi penyangga bagi minimal 5 daerah di bawahnya, seperti Kab Kendal, Kab Temanggung, Kab Banjarnegara, Kab Pekalongan, dan Kab Batang.
"Dieng itu jantungnya Wonosobo, dan jantungnya Jawa Tengah," ujar gubernur Jateng, Ali Mufiz. Senada dengan pejabat lain, Gubernur juga menekankan pentingnya konservasi di daerah Dieng. Menurutnya, jika lingkungan di Dieng rusak maka rusak pula lingkungan di Jawa Tengah.
Tentang rehabilitasi di Kawasan Dieng, Bupati Wonosobo mengaku sudah mempunyai skema tersendiri. Skema ini disebut skema prismatik, yaitu skema yang menghubungkan aspek sosial, ekonomi dan penyelamatan lingkungan sebagai dasar pelaksanaan upaya rehabilitasi lingkungan di Dieng. "Jangan sampai kita terjebak pada paradigma yang salah mengenai lingkungan, upaya penyelematan lingkungan tidak boleh menyingkirkan aktifitas ekonomi masyarakat" ujar Bupati.
Pihaknya akan melibatkan berbagai instansi yang bisa diajak bekerjasama menyelamatkan Dieng. Pihak pertama yang akan dilibatnya adalah Perhutani, tanah seluas 40.000 ha yang dikelola Perhutani di Daerah Dieng saat ini adalah kawasan yang bisa diwujudkan sebagai penggerak ekonomi pertanian masyarakat sekitar. "Ada banyak sekali komoditas yang bisa dikembangkan di kawasan ini. Bukan hanya Kentang yang nyata-nyata bisa merusak keseimbangan alam," jelasnya.
Berbagai jenis tanaman obat, seperti Purwaceng, Temulawak, Kunir Putih, empon-empon menurutnya akan tumbuh dan produktif jika ditanam di dearah yang mempunyai ketinggian seperti Dieng. Terpenting adalah tanaman ini meninggalkan dampak kerusakan lingkungan yang parah. "Tunggu apalagi, sudah banyak perusahaan jamu yang menunggu produk tanaman ini dari dieng, artinya masyarakat tidak perlu merasa khawatir produknya tidak laku," ujar bupati.
Revitalisasi Dieng ditunggu banyak orang, kata Tarman Azzam, Ketua PWI pusat yang menyempatkan diri berkunjung ke Dieng tiap tahun. "Ada peribahasa, berkunjunglah ke Roma sebelum mati, saya menunggu kapan saya bisa mengatakan, you must go to dieng, before you die dengan bangga' ujarnya. (m.n.latief)
.
Read more on this article...
Diposting oleh
Muhammad Nazarudin Latief
di
22.17
0
komentar
Jumat, 21 Maret 2008
Kalau liat keadaan yang seperti di poto itu, kayaknya LSM lingkungan masih sangat penting di negara kita. Bukan sedang meninggikan peran LSM dan merendahkan peran negara, yang namanya disaster management harus disengkuyung bareng, state dan civil society.
Read more on this article...
Diposting oleh
Muhammad Nazarudin Latief
di
17.22
0
komentar
Kamis, 28 Februari 2008
Kira-kira, saya pantas tidak punya rumah seperti ini. Kata Mandra, wartawan Suara Merdeka, saya pantas sekali berpose di depan rumah ini. "Itu dah pantes jadi rumah lo, dengan menggandeng dua istri disebelah mu. Satu luna maya yang satu lagi terserah lo,"ujarnya kagum.
Kata Teguh, pemuda tukang gelut itu. "Wah omahmu tip, sangar hebat, dadi orkay niy, mbok bagi2 warisan," ujarnya.
Kata saya, ini ada orang kaya iseng biki rumah seindah bokong J.Lo, tapi ga dipake. Mubazir..
Read more on this article...
Diposting oleh
Muhammad Nazarudin Latief
di
18.22
0
komentar
Jumat, 15 Februari 2008
Juni menikah
"Biar kalian mendahuluiku lulus kuliah, tapi soal menikah aku lebih segala-galanya dari kalian," ujar juni, si mempelai laki-laki.
Soal ini dia memang lebih hebat dari kami, tapi ingat hanya soal ini saja..
Read more on this article...
Diposting oleh
Muhammad Nazarudin Latief
di
18.48
0
komentar
Rabu, 30 Januari 2008
Kemana Pers Kampus Mencari Duit?
Awal tahun ini, tepatnya tanggal 1 januari 2008, saya terlibat pembicaraan agak menarik dengan Andrie dan Wiwik di Lumbung Resto, nama lengkapnya Lumbung Resto and Coffeehouse, letak café ini sekitar 300 meter arah utara kampus FISIP Unsoed, tepatnya di depan SPBU Pabuaran, Kecamatan Purwokerto Utara, Banyumas. Lumbung Resto ini menurut saya adalah salah satu restoran yang berusaha keras memenuhi standar penyajian. Dari mulai appetizer, main course sampai dessert disajikan berurutan.
.Misalnya anda memesan dessert, sementara teman anda memesan main course, maka pesanan anda ini akan diantar nanti setelah teman anda menyelesaikan main course-nya. Standar kan? Kata Shanti, teman saya yang wartawan kuliner itu, restoran seperti ini disebut fine dining resto.
Kata Shanty lagi, budaya kita sudah lama mengenal urut-urutan penyajian makanan seperti ini, “Standar penyajian makan raja juga seperti ini”, kata wartawan berbodi agak bengkak ini. Shanti memang sengaja saya hubungi untuk menjelaskan seluk beluk penyajian restoran standar.
Berdasarkan informasi dari Shanti, saya berani mengambil kesimpulan kalau Lumbung Café ini gak fine-fine banget. Di beberapa sudut resto, ada tempat lesehan. Saya pikir, lesehan tidak masuk salah satu criteria restoran untuk bisa disebut fine dining resto. “Kalo gitu sebut aja semi fine dining resto, tief”, ujarnya.
Saya dan Wiwik datang belakangan. Ga bosen-bosen saya dengan Wiwik ini, padahal malamnya saya sudah menghabiskan pergantian tahun dengannya, eh siangnya, sudah bareng lagi. Thanks for sweet old and new party ya..
Sambil menunggu kami datang, Andri memesan light meal, namanya Lumbung Sampler, ada keranjang kecil dari anyaman bambu yang berisi kentang goreng, sosis, dan 3 butir jenis bakso-bakso-an. Ada juga sedikit sayur, kubis, kol dan timun yang diiris kecil-kecil. Minumnya Red and Glamour, ini campuran strawberry, gula pasir dan susu, tentu saja diblender.
“Buat memancing selera” katanya. Selera kok dipancing. Paus kalee..
Main cource-nya Andri memesan Ayam Betutu. Kata pegawai resto yang melayani pesanan kami, ayam olahan itu adalah menu andalan Lumbung Resto. Aneh juga ya, restoran di Purwokerto kok menu andalannya ayam khas Bali, ga nyambung bo! Wiwik pesan Nasi Goreng Jawa Khas Lumbung, kalau ini lumayan lah, ada nama resto yang nempel di menu. Telornya, Wiwik minta digoreng, perempuan manis ini tidak suka telor ceplok. Setelah mencicipi sedikit, sayapun akur, rasanya memang Jawa banget.
“Telor kalau di celpok rasanya jadi aneh”, ujarnya dengan raut agak gigu. Wiwik pesan Lemon Squash untuk minumannya, kalau minuman ini, campuran jeruk lemon dan teh. Pesanan saya cukup mango blend, rujak sayur yang saya beli di warung sebelah kos-kosan cukup memenuhi rongga perut. Masih wareg.
Baiklah sodara-sodara, saya tidak akan panjang lebar menulis wisata kuliner kami, saya ingin menulis tentang materi obrolan kami di resto itu.
“Ada diskusi menarik di Forum Warteg”, kata Andri membuka obrolan, sesekali tangannya sibuk nyewir Ayam Betutu pesanannya. Forum Warteg adalah milis orang-orang yang dulu pernah nongkrong dan sering berdiskusi di Warteg depan FISIP UNSOED, pada masa jayanya warteg adalah salah satu barometer gerakan mahasiswa di Purwokerto. Saya dan Andri ikut milis itu sejak milis didirikan, sekitar tahun 2004, moderatornya Mas Ipul, senior kami mantan wartawan Tempo, sekarang Mas Ipul sedang membesarkan Koran barunya, Joglo Semar yang berbasis di Solo. Sementara Wiwik belum bergabung di milis, “Dari dulu ga sempat ndaftar” katanya.
Obrolan atau tepatnya “berbalas email” itu diawali dari email Fadli, dia Pemimpin Redaksi LPM Solidaritas FISIP Unsoed. Perihal-nya tentang pembukaan lowongan sumbangan dana untuk penerbitan Majalah Solidaritas. Gampangnya gini, “Semua alumni Solid (nama pendek Solidaritas) dan orang-orang yang pernah bersentuhan dengan Solid dimohon untuk menyisihkan sebagian pendapatannya guna menambah dana penerbitan majalah” demikian kira-kira intisari tulisan Fadli di email.
Tema majalah yang akan diterbitkan adalah PILKADA Banyumas, karena itulah dalam surat permohonannya Fadli tegas menyortir sumbangan yang berasal dari proses politik di Banyumas. Hanya dana-dana dari individu dan alumni yang tidak terindikasi terlibat dalam proses politik Banyumas yang diterima Solidaritas.
“Ingin menjaga independensi, tema ini sangat sensitif”, katanya.
Sebelum jauh ngomong tentang “permohonan bantuan duit” ini, saya ingin jelaskan latar belakang mengapa kami tertarik dengan obrolan galang-menggalang dana majalah.
Andrie dan Wiwik adalah dua orang mantan anggota Lembaga Pers Mahasiswa Sketsa UNSOED. Sketsa ini LPM tingkat universitas, di UNSOED memang ada pers kampus tingkat fakultas, dan tingkat universitas, lembaga pers di dua tingkat ini berjalan sendiri-sendiri, tidak ada subordinasi.
Mereka pernah menduduki jabatan Pemimpin Umum, jabatan puncak di organisasi mereka, tentu dengan periode yang berbeda, Wiwik ini adik angkatan Andri. Saya sendiri adalah mantan Pemimpin Redaksi LPM SOLIDARITAS FISIP UNSOED. Bukan jabatan puncak seh, tapi lumayan lah, masuk jajaran elit kepengurusan.
Kesimpulan saya, forum tersebut layak untuk membicarakan penggalangan dana buat pers kampus, walaupun dunia pers kampus sudah lumayan jauh kami tinggalkan. Cukup compatible lah…
Nah, ternyata sortiran Fadli atas dana yang masuk mendanai penerbitan inilah salah satu pangkal perdebatan. Hendro Gajah, mantan mahasiswa Administrasi Negara angkatan tua banget pernah mencibir dalam forum, "Ga usah pusing, duit itu dari setan atau iblis, yang penting independesi tidak tercerabut, dan majalah bisa terbit," tulisnya.
Kalau Uung, yang mulutnya tidak pernah berhenti mengejek manusia lain itu berkomentar agak realistis, menurutnya semua pilihan ada di tangan generasi Solid sekarang. Duit sumbangan tidak bisa terlepas dari siapa yang memberi duit dan plus kepentingannya. Dia mencontohkan, jika anak-anak solid mendapat duit dari Amang pasti orang akan berpikir kalau Solid menerima duit dari PDI Perjuangan, karena setulus-tulusnya Amang tidak mungkin lepas dari anggapan bahwa dia adalah aktifis yang sekarang bergabung ke partai moncong putih itu, begitu katanya. Wah susah juga ya..
Komentar lainnya senada, Dewo yang wartawan Republika, Burhan wartawan Suara Merdeka, Syarif kolega Burhan. Kalau Barid, si penguasa kenop gerakan sosial baru itu, saya lupa komentar atau tidak dalam soal ini, tapi kalo komentar pun paling tidak mutu. Intinya agar menjaga independensi pers kampus, termasuk soal duit.
Kembali ke lumbung resto. Dalam diskusi awal tahun itu, saya punya pikiran begini, pers kampus tak ubahnya media komunitas lain. Seperti komunitas petani, pedagang, buruh dan lain-lain. Media komunitas yang baik adalah media yang dihidupi oleh komunitas itu juga. Bahasa sederhananya, komunitas memiliki sense of belonging, handarbeni, rasa memiliki terhadap media. Jadi misalnya media kampus ini tak segera terbit, anggota komunitas akan mempertanyakannya, ingin tahu, kenapa bisa tak terbit, apa seh kendalanya. Komunitas tidak rela untuk tidak menyimak terbitan terbaru media itu. Kayak salah satu klub sepak bola di EPL itu lho, jadi ada satu klub yang terancam bangkrut, nah para supporternya bantingan biar klub tutup usia, jadilah sekarang saham mayoritas klub itu dimiliki oleh para fans. Begitulah kira-kira.
Untuk bisa diterima dan dihidupi oleh komunitasnya, media harus menyediakan kebutuhan-kebutuhan komunitas. Misalnya kajian-kajian alternatif yang mendukung kuliahnya, atau analisis yang bisa jadi referensi tambahan, karena perpus minim koleksi misalnya. Jadilah media ini pride, kebanggaan komunitas.
Dulu waktu saya masih jadi aktifis pers kampus, saya berangan-angan bahwa media kampus nantinya berisi tulisan-tulisan tentang kampus, dihidupi oleh pembeli mahasiswa, dan iklan-iklan seputar kampus. Media kampus ini menjadi alternatif yang ditunggu banyak orang di kampus. Sayangnya, sampai akhir hayat di pers kampus, angan-angan itu tak kunjung terwujud. Paling banter, selama jadi pemred di Solidaritas, saya hanya bisa menerbitkan beberapa buletin Belik, nir majalah yang sampai akhir kepengurusan tak tergarap. Tapi lumayan, waktu itu bulletin Belik yang kami terbitkan selalu ludes diserbu pembeli. Tapi angka penjualan ini tidak berhasil menolong waktu kami mempertahankan LPJ kepengurusan, tetep aja ditolak forum. Hiks sedih.
Diakhir obrolan kami sepakat, kalau media yang cocok untuk jadi produk pers kampus adalah jurnal ilmiah. Tidak harus jurnal penelitian lah,
bersambung..tunggu aja..
Read more on this article...
Diposting oleh
Muhammad Nazarudin Latief
di
18.00
1 komentar
Senin, 17 Desember 2007
Air dan Kehidupan
Kehidupan, konon hanya ada di planet bumi. Di planet inilah ada kehidupan manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Menurut para ahli, kehidupan di bumi ini ada karena terdapat unsure udara dan air, unsure paling penting penentu kehidupan. Hal ini dulu sering kita dengan waktu kita mendapat pelajaran IPA, jaman kita sekolah dari SD sampai perguruan tinggi, kita diberi tahu jika air adalah unsure utama pembentuk kehidupan di muka bumi.
Kesadaran kita tentang air berbeda dari jaman kita kecil. Dulu kita asyik saja bermain air, dus-dusan sampai mata memerah dan kulit legam. Sekarang kita menyadari bahwa tanpa air irigasi sawah kering dan tak berproduksi. Tanpa air ledeng yang mengalir lancar, keluarga-keluarga di kota tergangu irama kehidupannya. Bahkan di kota-kota besar, setiap keluarga harus menyiapkan rupiah dalam jumlah yang tidak sedikit untuk menghadirkan beberapa jerigen air di dapur. Kita juga mulai dengan serius berteriak tidak setuju ketika hutan banyak digunduli, karena kita tahu hutan adalah spon raksasa penyimpan air.
Secara alamiah, air menempati posisi yang unik bahkan sentral dalam kehidupan kita. Vandanashiva seorang aktifis lingkungan dunia menyebut air sebagai matrik budaya dan dasar kehidupan, karena itulah air harus dijaga dengan benar agar kehidupan manusia tidak terganggu. Dalam pandangan yang lebih kapitalistik, Ismail Serageldin, wakil direktur Word Bank pada tahun 1995 mengatakan, dimasa depan perang bukan lagi disebabkan oleh persengketaan minyak, barang tambang yang hanya bisa diperoleh dengan mengebor sedalam ribuan kilometer ke dalam perut bumi, perang masa depan dipicu oleh air.
Sesungguhnya, ada landasan etik pengelolaan air. Karena semua orang di dunia membutuhkannya, air tidak boleh dikelola selayaknya komoditas yang bisa mendatangkan keuntungan besar.
Pertanyaannya adalah mengapa air menjadi memiliki nilai ekonomi sedemikian tinggi?
Read more on this article...
Diposting oleh
Muhammad Nazarudin Latief
di
19.41
2
komentar
Kamis, 13 Desember 2007
Banyumas yang Mengering
Ini kejadian rutin di Purwokerto, khususnya di perumahan-perumahan yang menjadi pelanggan PDAM. Tiap memasuki musim kemarau, sekitar bulan Juli, aliran ledeng ke rumah mereka crat-crit, tidak lancar dan hanya air mengalir beberapa jam sehari. Termasuk perumahan di seputar Universitas Jenderal Soedirman, padahal jaraknya hanya beberapa kilometer dari daerah resapan air di Baturaden.
“Dua tahun saya ngontrak di GS (Perum Griya Satria), tiap kemarau, mandi selalu ngungsi”, ujar Priyo (22 th), mahasiswa FISIP Unsoed asal Tegal. Priyo juga mengaku sering begadang, menunggu ember dan bak mandinya terisi penuh. Di perumahan tempat dia tinggal, biasanya ledeng kembali mengalir tengah malam sampai dini hari.
Keluhan sama juga diungkapkan oleh Heri (35 th) seorang PNS di Balai Pelelangan Ikan Cilacap yang tinggal di perumahan Tanjung Elok Purwokerto. Jika memasuki musim kemarau, ledeng di rumahnya tidak pernah lancar. “Kalau sudah terang (kemarau) repot mas” ujarnya.
Masalah PDAM
Ketika ditanya apa penyebabnya, serentak mereka menuding PDAM Banyumas sebagai biang keladi masalah ini. Menurut mereka, BUMD ini tidak memiliki skema alternative untuk mengatasi keluhan pelanggan yang tiap tahun berulang.
“Masa dari tahun ke tahun tidak pernah ketemu solusinya?”, ujar Heri.
PDAM Banyumas memang pantas pusing. Kondisi perusahaan tak cukup menggembirakan, saat ini kapasitas produksi mereka 517,98 Liter/detik. Dengan kapasitas itu, mereka hanya bisa melayani 66,91 persen di Kota Purwokerto, 42,90 persen dari kota se Kabupaten Banyumas, dan 15,2 persen dari Kabupaten Banyumas, itupun dengan layanan yang pas-pasan bahkan cenderung kurang.
Kesulitan yang dihadapai PDAM adalah sumber air baku yang semakin sulit didapat. Data yang diperoleh dari Bagian Konservasi Sumber Daya Hutan dan Lingkungan (DKSDHL), Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Banyumas, membenarkan alas an ini. Pada bulan Agustus 2007 jumlah mata air di Kabupaten Banyumas hanya tinggal 500 titik, padahal di tahun 2002 jumlah mata air di Kabupaten Banyumas mencapai 3.002 titik. Secara umum inilah penyebab utama krisis air bersih di 57 desa Banyumas akhir-akhir ini.
Selain persoalan pasokan air baku, 30 persen sarana prasarana produksi dan distribusi air milik PDAM dalam kondisi rusak, usia peralatan teknis itu telah lebih dari 20 tahun, bahkan ada berapa peralatan peninggalan pemerintah colonial Belanda yang masih digunakan. Problem-problem tersebut menumpuk dan sulit diatasi, pada akhirnya, pelangganlah yang tiap tahun merasakan ledeng yang macet, dan air yang crat-crit, keruh, bahkan berbau.
Kekeringan Parah
Kabupaten Banyumas dengan topografi wilayah yang berbukit-bukit memang memungkinkan terjadi kekeringan di musim kemarau. Terdapat 40 desa yang tersebar di 12 kecamatan di Banyumas yang menjadi langganan kekeringan. 12 kecamatan itu adalah Kebasen, Rawalo, Sumpiuh, Tambak, Kalibagor. Kecamatan lainnya Wangon, Somagede, Rawalo, Cilongok, Jatilawang, Ajibarang, dan Gumelar.
Kekeringan di tahun 2007 ini lebih parah dari tahun kemarin, di Kecamatan Tambak dan Sumpiuh, pada bulan Agustus 2007 sudah mengalami instrusi. Intrusi adalah gejala alam berupa masuknya air asin ke daratan. Gejala ini disebabkan rendahnya permukaan air tawar. Selain itu, kejadian ini juga dipicu oleh rusaknya klep pengatur pembuangan, sehingga air laut samudra hindia yang berjarak 30 km dari sebelah selatan kecamatan tersebut masuk ke sungai-sungai dan akhirnya meresap ke sumur warga. Biasanya intrusi terjadi saat kemarau mencapai puncaknya, kisaran bulan November, tapi tahun ini intrusi sudah terjadi di bulan Agustus.
Secara umum disebutkan dalam surat surat edaran Provinsi Jawa Tengah No. 360/8476 tertanggal 14 Juli 2003 bahwa, 29 kabupaten di Jawa Tengah mengalami kekurangan air bersih. Di karesidenan Banyumas dan Pekalongan terdapat 9 kabupaten yang mengalami kekurangan air. Tercatat 327 desa di 57 kecamatan yang tersebar di Kabupaten Batang, Pekalongan, Pemalang, Tegal, Brebes, Banyumas, Banjarnegara, Purbalingga dan Cilacap mengalami kekurangan air bersih.
Dampak paling terasa adalah kesulitan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari. Di desa Kedungwuluh Lor, Kecamatan Patikraja misalnya, Selama musim kemarau, mereka harus mencari ke sejumlah mata air di luar desa yang jarak tempuhnya mencapi 1,5 km. Sementara bantuan air bersih dari PEMKAB Banyumas hanya berkisar 4000 liter. Jumlah tersebut tidak cukup untuk memasok kebutuhan ribuan warga. Akibatnya, pembagian air bantuan pemerintah selalu diwarnai dengan rebutan air, dan keluhan tidak memperoleh jatah air bersih. Masyarakat di Kecamatan Sumpyuh warga terpaksa memilih mencari air ke desa tetangga yang letaknya sekitar 3-5 km. Bahkan sebagian dari mereka mencari air hingga ke Rowokele dan Ayah di Kabupaten Kebumen.
Kekeringan juga mengancam kondisi ketersediaan pangan. Pada minggu pertama Agustus 2007 kekeringan di Jateng sudah melanda sekitar 108.000 hektar lahan sawah dengan kondisi puso sekitar 10 persen. Akibatnya, pada tahun 2007 ini, produksi padi diperkirakan menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ramalan II 2007 menunjukkan angka perkiraaan produksi padi dalam setahun hanya sebesar 8,38 juta ton dengan luas panen selama tahun 2007 hanya seluas 1,56 juta hektar. Berbeda dengan tahun 2006, angka produksi mencapai 8,73 juta ton, angka tertinggi sejak tahun 2000. keberhasilan ini berkat dkungan curah hujan, saat itu jumlah lahan panen mencapai 1,66 juta hektar dengan kondisi puso hanya 6.000 hektar.
Kerusakan Ekosistem
Kekeringan dimusim kemarau dan banjir di musim hujan sepertinya sudah menjadi agenda rutin dalam kehidupan kita. Jika sudah seperti ini, bukan lagi fenomena alam biasa. Kenyataan ini merupakan akibat dari ketidakseimbangan ekosistem, sebabnya adalah kerusakan lingkungan yang parah. Masyarakat kadang salah memahami, kekeringan dan banjir sering dianggap bencana alam, padahal bencana-bencana alam ini bukanlah suatu kondisi yang begitu saja terjadi, tetapi akibat yang muncul dari akumulasi berbagai kerusakan di bumi.
Data dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan Banyumas menunjukan kerusakan ekosistem banyak dipicu oleh aktifitas ekonomi manusia. Penebangan hutan menjadi salah satu sebab kerusakan alam. Menurut Wisnu Hermawanto, Kepala Dishutbun, setiap hari ada sekitar 500 meter kubik kayu di Banyumas yang ditebang. Jumlah tersebut setara dengan 1.500 batang pohon. Padahal, mata air membutuhkan sedikitnya 400 batang pohon sebagai penyimpan air. Jika tidak ada upaya serius untum menghentikan penebangan dan reboisasi, Wisnu memperkirakan dalam jangka waktu 5 tahun ke depan, di Banyumas sudah tidak ada lagi mata air.
Penebangan memberikan implikasi buruk bagi hutan, padahal hutan memiliki fungsi sebagai tempat penyimpanan air, berpengaruh terhadap perubahan iklim mikro, dan mampu mencegah terjadinya bencana-bencana longsor, banjir, serta melindungi kawasan di bawahnya dari angin ribut. Akibat minimnya hutan, air hujan tidak dapat tertahan sehingga lari ke lahan yang lebih rendah dengan menggerus lapisan tanah atas (top soil) yang subur. Kondisi ini memaksa petani untuk memberi pupuk kimia agar tanahnya subur. Dampaknya, berbagai zat kimia tersebut mencemari air tanah dan mempersulit warga memperoleh air bersih.
Selain kerusakan hutan, penyedotan air tanah turut memberi andil bagi kekeringan. Kualitas dan kuantitas air merosot akibat penyadapan besar-besaran guna memenuhi kebutuhan rumah tangga, industri, rumah sakit, hotel, dan restoran.
Upaya Konservasi yang Serius
Sesungguhnya, tidak sulit untuk mencegah terjadinya kerusakan ekosistem. Kita hanya memerlukan komitmen dan keingingan yang kuat untuk melaksanakan konservasi secara konsisten. Masalahnya sekarang, lingkungan tidak pernah dilihat dalam bagian yang intergral dalam pembangunan. Lingkungan telah dieksploitasi demi meningkatkan devisa dan mendongkrak pendapatan baik di daerah maupun secara nasional, namun upaya tersebut tidak dibarengi dengan penyelamatan dan rehabilitasi.
Menurut Dani Armanto, coordinator Komunitas Peduli Slamet (Kompleet) perlu langkah-langkah strategis dalam memulai usaha penyelamatan lingkungan. Pertama adalah membangun padangan bahwa lingkungan adalah bagian integral dari pembangunan. “Dampak pembangunan ekonomi terhadap lingkungan, social dan budaya harus diperhatikan. Harus ada kerangka dan mekanisme untuk meminimalisir dampak buruk pembangunan”, ujar Dani.
Investasi juga harus mendapat perhatian yang serius. Kadang investasi justru menjebak masyarakat sehingga menumpulkan kemampuan masyarakat untuk memobilisasi sumberdaya yang dimiliki. Bahkan, investasi juga medorong masyarakat untuk melepas asset yang dimiliki. Kawasan wisata Baturaden misalnya, di daerah tersebut, sebagai besar tanah sudah dimiliki oleh investor, masyarakat berbondong-bondong menjual tanahnya untuk mendapat keuntungan yang besar dalam waktu singkat. Akibatnya, masyarakat di daerah tersebut tidak dapat menjadi pemain utama dalam usaha yang banyak ada disana, mereka hanya menjadi pemain pingiran dan bertebaran di sector informal. Pemerintah tidak harus selalu mengandalkan investasi untuk membiayai pembangunan daerah, namun ada kerangka untuk memaksimalkan penggunaan asset-asset yang dimiliki masyarakat.
Untuk mengembalikannya, perlu dilakukan penataan ulang struktur agraria. Reforma agraria adalah langkah untuk mengembalikan kemampuan produksi masyarakat dalam bidang pertanian sebagai pondasi utama pembangunan daerah. Langkah dalam redistribusi asset juga harus diikuti kebijakan yang berpihak pada pembangunan pertanian misalnya, proteksi, pengembangan kapasitas sumber daya manusia petani.
Di kalangan elit pemerintahan baik legislative maupun eksekutif juga harus dilakukan gerakan pembersihan dari mafia-mafia perijinan dan proyek. Mereka inilah yang merusak kerangka pembangunan daerah. Mereka hanya mengejar keuntungan sesaat tanpa mempertimbangkan pembangunan daerah yang berkelanjutan.
Read more on this article...
Diposting oleh
Muhammad Nazarudin Latief
di
16.21
0
komentar
Sabtu, 08 Desember 2007
Kisah Cinta
Kata orang, jika barangnya panas, jangan disimpan lama-lama, tanganmu bisa terbakar, minimal sedikit melepuh atau kemerahan. Benar juga, barang yang didapat tanpa melewati prosedur semestinya, memang membuat pusing. Seperti uang hasil korupsi mungkin. Kira-kira demikian pelajaran yang bisa dipetik dari kisah yang akan saya ceritakan.
Untuk catatan, kisah ini saya kategorikan sebagai cinta, tapi bukan kisah cinta saya, jadi jangan pernah mencoba untuk mengkaitkan kisah ini dengan perjalanan hidup saya. Jika ada kemiripan kisah, nama dan karakter tokoh, anggap saja kebetulan, seperti sinetron-sinertron yang tak pernah mau dikaitkan dengan dunia nyata. Celakanya, walaupun saya sudah memberi warning begitu rupa, waktu kisah ini saya sodorkan pada seorang kawan dekat, dia ngotot menyamakan kisah ini dengan cerita yang saya alami. Dia-pun berargument, walaupun terdengar seperti argumentasi tim sukses PILKADA membela sang bos yang terkena black campaign. Ngotot. Saya juga tidak bisa berbuat apa-apa, waktu itu, beberapa oz Chivas Regal Premium Scotch Whisky hasil patungan membuat tidak bisa membela diri, ada miss koordinasi antara otak dan organ tubuh saya, sehingga kata-kata yang telah tersusun rapi di otak tak sama dengan yang dia dengar.
Baiklah, mari kita buka kisah cinta yang kemarin sempat menghebohkan banyak kalangan. Begini ceritanya (jadi ingat program tayangan misteri di salah satu TV dulu) :
Perempuan Itu Datang Tiba-tiba
Datanglah seorang perempuan dalam kehidupan teman saya. Tiba-tiba, tanpa pra kondisi, hanya satu short massage service yang isinya kurang lebih meminta untuk menemaninya berkeliling kota, lagi pusing katanya. Antara perempuan ini dan teman saya memang telah lama bersahabat.
Nama sang gadis sengaja tidak saya sebutkan, keep the lady safe, ok. Awal kedatangan, dia memberi preview seperti perempuan yang butuh perlindungan. Dia bercerita bahwa hubungan dengan teman pria-nya sudah tidak mungkin dilanjutkan. Banyak sekali perbedaan prinsip yang tidak bisa ditoleransi. Menurut perempuan ini, karakter teman prianya hampir mirip dengan karakter dia sendiri, sama-sama keras kepala dan ringan tangan. Sering terjadi adu fisik dalam masa pacaran mereka, sudah tidak terhitung barang pecah belah yang berantakan jadi sasaran amukan mereka. Saya pikir mereka termasuk penganut gaya pacaran high cost, sayang sekali barang-barang itu harus hancur, padahal belinya mahal lho…
Perempuan ini memberi catatan tambahan pada teman prianya ini, possesif, cemburuan, dan sering gelap mata. Dengan mengambil referensi dalam artikel-artikel tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) teman saya berkesimpulan sama dengan sang gadis.
“Baru pacaran aja dah berani plak-plek, jika benar menikah, apa jadinya?” ujarnya bersemangat. Setelah konsultasi sana-sini, akhirnya teman saya membulatkan tekad untuk memberi perlindungan, mungkin seperti LBH APIK memberi bantuan pada korban antem-anteman dalam rumah tangga.
Nah, Sudah mulai tergambarkan, mengapa diawal saya menulis tentang barang panas? Benar, barang panas identik dengan masalah. Maksudnya kalau ada masalah cepatlah selesaikan.
Singkat kata, keduanya, perempuan itu dan teman saya semakin dekat. Saya pikir wajar, yang satu butuh perlindungan, yang satunya lagi memberi perlindungan. Klop lah… Sang gadis merasa nyaman berada di samping si pria, sebaliknya, sang pria seperti menemukan cintanya yang hilang. Bahkan, menurut pengakuan, jatuh hati-nya pada perempuan itu sudah terjadi jauh hari sebelum sang gadis digandeng pacar yang sekarang sedang bermasalah. Jadilah mereka pren makan pren he.he…
Bursa Bakal Calon Menantu
TIbalah saat untuk lebih serius. Tapi justru persoalannya muncul dari sini. Ternyata di rumah, perempuan ini sudah ditunggu calon suami pilihan orang tua. Masih kerabat. Laki-laki ini bekerja pada salah satu institusi pemerintah, pegawai negeri sipil (PNS). Rupanya inilah keunggulan laki-laki pilihan orang tua si gadis. Bapak ibunya ingin anak gadisnya hidup mapan, tenang dan tidak banyak gangguan. Wajarlah, tentu kita tidak lupa dengan mentalitas kelas menengah feudal di negeri ini, ingin adem ayem.
Waduh, pusing juga si gadis. Satu sisi ingin membahagiakan orang tuanya, sisi lain dia belum bisa menumbuhkan cinta pada laki-laki itu, tambah lagi cerita-cerita tentang anak cacat yang dihasilkan dari perkawinan antar kerabat semakin membuat sang gadis beringsut mundur dari perjodohan.
Untuk menolak upaya Sti Nurbaya-isasi, dia mengajukan nama-nama bakal calon menantu pada bapak ibunya. Forum waktu itu mungkin bisa disejajarkan dengan Konvensi penentuan calon bupati di Partai Golkar, Rakercabsus di PDI Perjuangan, atau Muskit di Partai Kebangkitan Bangsa. Nama-nama yang diajukan diteliti baik buruknya. Nama teman pria sang gadis langsung dicoret, karena tidak masuk dalam kualifikasi laki-laki penyayang dan sabar. Dalam kesempatan itu, nama teman saya juga muncul sebagai salah satu Balon, tak jauh beda dengan pacar sang gadis, teman saya juga dicoret dari daftar unggulan. Alasannya, dia memliki aktifitas yang bisa membuat hidup tidak tenang, aktifitas politik. Bapak sang gadis mempunyai kebencian pada politisi yang cukup untuk mendepak nama teman saya dari daftar unggulan bakal calon menantu. Teman saya ini memang sedang merintis karir di salah satu partai, dalam beberapa obrolan dia sudah mantap untuk menjalani hidup sebagai aktifis partai, tapi saya lihat masih bisa berubah. Forum waktu itu juga memunculkan beberapa criteria yang harus dipenuhi untuk menjadi menantu, antara lain sabar, saying pada anaknya, dan jangan lupa mapan secara ekonomi. Nah kata mapan secara ekonomi ini disederhanakan menjadi memiliki penghasilan tetap, disederhanakan lagi menjadi, calon menantu nanti adalah seorang PNS !!
Tuhan, jodohkan saya dengan laki-laki yang bisa diterima orang tua ku
Confuse lagi neh perempuan, kalo sudah bingun seperti ini, biasanya manusia timur kembali pada tuhan yang sering dilupakan kala senang. Bagian spiritualitas dalam dirinya meronta-ronta ingin dipenuhi. Berdoalah sang gadis pada Tuhannya, dia berdoa, agar tuhan mengirimkan laki-laki terbaik untuk jodohnya. Laki-laki yang bisa diterimanya dan orang tuanya. Tentu dengan criteria-criteria yang ditetapkan orang tuanya, sabar, sayang, seorang PNS. Sang gadis secara kreatif menabah lagi satu criteria, yaitu laki-laki yang mampu membimbingnya dalam laku religius.
Tentu saja teman saya ini semakin tersingkir. Semakin tidak dibicarakan dalam debat kandidat menantu. Jika diibaratkan lelang yang biasa diadakan dinas-dinas pemerintah, teman saya ini tidak lolos seleksi administrasi.
Sebenarnya ada lagi satu kisah yang membuat teman saya ini semakin jauh dari hangar bingar persaingan penentuan menantu orang tua sang gadis. Ceritanya, dalam kebingungan, sang gadis pergi ke suatu kota. Mbuang stress katanya, nah di kota itu dia bertemu dengan kakak pacar teman kuliahnya dulu. Celaka bagi teman saya, sang gadis mulai dihinggapi pikiran bahwa laki-laki itulah jodoh kiriman tuhan padanya, semua criteria cocok. Orangnya baik, penampilan oke, dan mapan, maklum dia bekerja di instansi sama dengan laki-laki pilihan orang tuanya dulu, tapi beda penempatan. Tambah lagi dia sering mengisi pengajian-pengajian di instansinya, kyai muda nampaknya. Tuhan memang murah hati.
Munajat Cinta
Bagaimana nasib teman saya? Belakangan saya melihatnya aktif terlibat dalam gelaran politik persiapan PILKADA di partainya. Dia masuk dalam jajaran elit para pembisik ketua partai, saking elitnya, tidak ada kebijakan partai yang dikeluar tanpa terlebih dulu melewati analisanya. Tugas terakhir yang diterima dari ketua partai adalah membentuk tim khusus think tank pemenangan PILKADA. Tim ini menurutnya dibentuk untuk memberi masukan-masukan strategi, isu dan media kampanye bagi 3 tim pemenangan calon, yaitu tim sang calon bupati, tim sang calon wakil bupati dan bagian pemenangan pemilu partai. Selain itu dia juga mendapat job khusus, meng-handle media massa. Job yang menurut ketua partai tidak bisa dilakukan kader partai lainya. Ketua partai ingin agar pemberitaan media massa dalam PILKADA bisa memberi citra positif bagi partai.
Sepertinya teman saya ini sudah tenggelam dalam aktifitas politik dan melupakan kisah sedihnya. Setelah saya berdiskusi dengannya, ada beberapa kesimpulan yang kami sepakati. Pertama, analisis kelas tetap berlaku dalam kisah ini. Kelas menengah tetap mempunyai karakter yang melekat sebagai bawaan, yaitu takut miskin. Mereka selalu berusaha naik kelas, pada kelas borjuasi yang lebih tinggi. Perilaku orang tua si gadis menunjukan dengan jelas kecenderungan ini. Pada beberapa obrolan dengan sang gadis, dia menyiratkan kata sepakatnya pada criteria orang tuanya. Kedua, secara sosiologis, cara pandang masyarakat kita belum beranjak dari cara pandang jaman colonial dulu. Mereka masih berpikiran bahwa pekerjaan sebagai pangreh praja adalah pekerjaan idaman yang harus diraih sekalipun dengan menjilat bokong penguasa. Kesimpulan ketiga ini agak sensitive, terutama bagi para feminist, dimana-mana perempuan adalah pemicu persoalan ekonomi, maksudnya mereka inilah yang selalu rewel pada soal kemapanan ekonomi calon suami, wajar mereka khawatir jika nanti anak-anaknya terlantar karena kesulitan ekonomi.
Dari kamar teman saya tadi, sekarang sering terdengar lagu Munajat Cinta.
Read more on this article...
Diposting oleh
Muhammad Nazarudin Latief
di
02.14
0
komentar
Jumat, 23 November 2007
Perut Kita Juga Dijajah !
Jika anda membayangkan tentang desa, jangan buru-buru beranggapan bahwa desa adalah daerah yang terpencil, listrik tidak ada, makanannya khas atau hal-hal lain yang masih sangat katro, meminjam istilah presenter kondang Thukul. Desa sekarang tidak lebih replika . Perbedannya mungkin hanya di desa tidak ada gedung yang menjulang mencakar langit, serta jalan-jalannya yang tidak begitu lebar. Lainnya, sama.
Adahubungan timbal balik kotadan desa. Kota mempengaruhi desa dan sebaliknya. Fenomena ini sudah terjadi pada jaman revolusi industri Inggris dulu. Waktu itu pemerintah kerajaan Inggris mengeluarkan suatu paket Undang-undang yang terkenal dengan UU Domba, pemerintah Inggis memerintahkan kepada rakyat di daerah pedesaan untuk mengganti lahan pertaniannya menjadi ladang penggembalaan domba, kebutuhan kota akan wol sedang tinggi, maka desa harus mensuplyai kebutuhan tersebut, demi memajukan industri nasional. Desa dan sama-sama berproduksi, dalam skala yang berbeda tentunya. Mereka menghasilkan barang yang dikonsumsi masyarakat, aktifitasnya meningkatkan taraf hidup masyarakat, mempekerjakan tenaga kerja, akhirnya, desa dan kota sama-sama menyumbang pertumbuhan ekonomi nasional.
Persamaan desa dan kota berkembang bukan hanya hal yang diungkapkan diatas, dalam bidang budaya misalnya, desa berubaha menjadi semakin
Intervensi
Dani (8 th), misalnya, murid kelas 2 salah satu SD di Kemawi ini sering merengek meminta ibunya untuk membelikan friedchiken di ujung desa sebagai lauk makan siang sepulang sekolah. “Mbuh enake neng endi” ujar Paryati, ibunya. Dia heran mengapa anaknya begitu suka daging ayam yang dibungkus tepung dengan bumbu. Padahal menurutnya, makanan itu tidak istimewa. “ Makanannya sederhana, bahkan saya bisa memasak lebih enak” ujarnya.
Penetrasi Budaya dan Ekspansi Modal
Arizal mutakhir, seorang sosiolog dari FISIP Unsoed menjelaskan fenomena ini sebagai akibat dari globalisasi. Menipisnya jarak dan batas antar negara, wilayah, bahkan budaya masyarakat dunia. Teknologi komunikasi dan kemajuan tekhnologi lain membuat hilangnya batas ruang dan waktu.
“Kita sudah masuk pada jaman globalisasi, hampir tidak ada batas antar negara, budaya, bahkan ekonomi. Jika tidak hati-hati, kita akan mengalami banyak benturan peradaban yang membuat manusia gegar budaya” ujarnya.
Menurut Hariyadi MA, rekan satu kantor Rijal penyebabnya adalah media. Media membuat semuanya menjadi mungkin, orang mudah menemukan referensi
“Jangankan di Kemawi, di Papua orang menggunakan masih koteka tapi tentang-tenteng HP” ujarnya.
Senada dengan koleganya, Haryadi juga memperingatkan akan adanya benturan peradaban. Hal ini terjadi ketika dengan
”Selain itu juga identitas lama juga tetap menuntut eksistensinya” ujarnya menambahkan.
Selain budaya, ada juga globalisasi ekonomi. Proses ini ditandai dengan meleburnya batas-batas negara dalam perdagangan. Tak terkecuali
Pasal berikutnya adalah pengurangan subsidi ekspor. Dengan pengurangan ini, petani kita dibiarkan pemerintah untuk menghadapi pemain-pemain besar pemasar produk pertanian. Persoalan ketiga yang diatur dalam perjanjian tersebut adalah perluasan akses pasar, artinya penghapusan seluruh bentuk hambatan impor produk pertanian dan mengkonversinya dalam bentuk tarif. Persoalannya adalah setiap tahun tarif akan turun dengan perhitungan tertentu, maka seluruh produk pertanian dari negara-negara maju bisa masuk ke
Perjanjian ini membuat produk pangan luar negeri membanjiri pasar domestik. Tak terhitung banyaknya frenchise makanan siap saji yang menjamur di kota-kota besar. Mereka tampil lengkap dengan identitas baratnya, Mc Donald, Kentucy Fried Chiken, Paparon Pizza, Spaghetti. Jika orang
Penjajahan Pangan
Sadar atau tidak sadari kita sedang mengalami penjajahan bentuk baru, yaitu panjajahan pangan. Bentuk penjajahan ini tentu berbeda dengan kolonialisme purba, namun dampaknya adalah kemunduran ekonomi dan budaya bangsa.
Arief Wahidin, seorang aktifis gerakan sosial menjelaskan bahwa kebijakan pemerintah kita semakin menjauhkan rakyat dari pangannya. Menurutnya ini awal dari penjajahan pangan yang dilakukan oleh negara-negara maju. Bentuknya bukan hanya kelaparan, tapi juga kedaulatan masyarakat atas pengetahuan yang telah dimilikinya sejak lama. ” Penjajahan pangan menghilangkan kedaulatan orang atau komunitas untuk memenuhi pangan mereka” ujarnya.
Bentuk penjajahan tidak melulu impor besar-besaran produk pertanian asing, tapi juga dalam bentuk kapitalisasi benih, saprodi, dan lain-lain yang memarginalkan orang atau komunitas dari sumber pangannya, bahkan kerusakan lahan pertanian, penyerobotan juga memutus petani dari sumber panganya.
Rijal bahkan lebih tegas lagi memandang persoalan ini. ”Apapun isi perjanjian internasional tentang pangan, tapi kita jelas sudah melihat kegagalan negara dalam menyediakan pangan nasional. Artinya pemerintah sudah tidak mampu menyelenggarakan perlindungan, pangan sudah diserahkan pada pasar yang akan membawa kesengsaraan bagi petani” ujar akademisi muda ini.
Sementara, Shanti Kusumayanti, seorang pegiat kuliner mengungkapkan bahwa investasi modal asing dalam bentuk frenchise pangan adalah bentuk nyata penjajahan pangan. ” Rempah lokal yang sudah menjadi tradisi bumbu masak kita dihapuskan, sebagian diklaim oleh para pemodal” ujarnya. Selain itu, terjadi pergeseran bahan
Read more on this article...
Diposting oleh
Muhammad Nazarudin Latief
di
15.38
0
komentar
Selasa, 13 November 2007
Cerita PILKADA I
Mungkin, jika diukur dalam skala celcius, suhu politik di Banyumas berada dalam kisaran 40-50 derajat celcius. Lumayan panas. Pasalnya, ini kali pertama Kabupaten di kaki gunung slamet ini menyelenggarakan pemilihan kepala daerah secara langsung. Selayaknya pagelaran pilih memilih, situasi di politik di kabupaten ini menjadi agak panas dan penuh intrik, manuver dan klaim dukung mendukung.
Bangsa ini memang sedang tenggelam dalam euphoria demokrasi liberal. One man one vote. Satu suara sangat berarti untuk menjadikan seseorang menjadi pimpinan daerah, maka setiap orang berlomba untuk memenangkan pilihan rakyat. Tapi ada paradok. Seharusnya pemilihan langsung menjadi hajatan rakyat, menyediakan banyak alternative pemimpin. Namun hajatan ini senyatanya menjadi milik orang-orang disekitar kandidat -orang menyebutnya sebagai tim sukses-. Merekalah yang membangun opini, citra, dan berusaha memunculkan sisi terbaik kandidat, nyaris tanpa kritik. Tim suskses inilah yang menikmati keuntungan jangka pendek maupun jangka panjang dari PILKADA. Mereka dibayar, dan mereka mengatur konsesi jika nanti kandidatnya terpilih. Akhirya aspirasi dan amanat rakyat hanya berhenti di bilik suara.
Sebelum jauh berbicara tentang tim sukses (saya punya beberapa bacaan tentang “industri” kampanye PEMILU) ada beberapa cerita yang menarik seputar PILKADA di Banyumas. Karakter di sini unik, mungkin bagi orang lain biasa saja, tapi saya ngotot menyebutnya unik.
Cerita pertama soal panasnya politik di kaki Gunung Slamet ini berasal dari fenomena rebutan kandidat calon. Kandidat itu bernama Bambang Priyono, mengikuti tren di menyebut nama politikus dengan inisial, masyarakat Banyumas juga latah membuat tenar Pak Bambang dengan sebutan BP.
(Sepertinya, gosip-gosip seputar PILKADA kurang afdol jika tidak menyebut nama kandidat dengan inisial. Kurang sedap bumbu politiknya. Bahkan sering orang menyebut nama kandidat dengan bisik-bisik, seolah gossip yang dibicarakan adalah informasi rahasia, info yang berasal dari ring satu orang-orang terdekat calon)
BP ini adalah orang yang pernah maju sebagai kandidat bupati pada periode lalu, tahun 2003-2007. Waktu itu beradu pamor dengan Aris Setiono, dan dr. Tri Waluyo Basuki. Putaran pertama, BP mengunguli lawannya denga skor tipis, waktu itu BP mendapatkan 16 suara, Aris 15 dan dr. Tri 14. Dalam putaran ke dua BP kalah dengan Aris, kalau tidak salah dalam putaran kedua BP mendapat 19 suara, sedangkan Aris 25 suara, sedangkan 1 suara abstain. Inilah salah satu kegagalan PDI-Perjuangan –partai yang menjagokan BP waktu itu- untuk mengkonsolidasikan barisan fraksi dan melakukan loby-loby dengan partai lain.
(Frans Lukman, ketua DPRD Cilacap mempunyai kisah tentang Pemilihan Bupati tidak langsung ini. Dulu, setannya hanya orang-orang yang berada di dewan, namun sekarang, jumlah setan PILKADA berlipat ganda. “Saya yang dulu raja-nya setan sekarang hanya setan biasa” ujanya. Ssst… ini gossip murahan ya..jangan dikutip)
PILKADA kali ini BP digadang-gadang oleh dua kelompok yang berbeda. Kelompok pertama adalah koalisi 3 partai yang terdiri dari Partai Persatuan Pembangunan, Partai Keadilan Sejahtera, dan Partai Demokrat. Mereka menamakan koalisi ini sebagai Koalisi Poros Rakyat (KPR). Koalisi ini bahkan sudah jelas memasangkan BP dengan Tosi Aryanto, salah seorang kader dari Partai Demokrat, dia pengusaha kaya asal Banyumas yang lama di luar kota.
Berbeda dengan KPR, kelompok kedua yang ngotot menjagokan BP adalah PDI Perjuangan, walaupun rekomendasi dari DPP belum turun. Partai ini memang sudah lama menjagokan BP sebagai bupati, periode lalu, mereka menjagokan BP dalam PILKADA yang waktu itu dipilih oleh para wakil rakyat, tapi kalah. Kali ini mereka tidak ingin kalah lagi, hampir 2 tahun belakang nama BP santer dibicarakan pada rapat-rapat pengurus partai, dari tingkat ranting, PAC sampai DPC. Bahkan jika ada anggota DPR RI dari Fraksi PDI-Perjuangan yang mengisi masa reses-nya di Banyumas, jajaran partai mengobral omongan tentang BP. Bagi partai moncong putih ini, pendeng gepeng BP harus menang lewat PDI-Perjuangan.
Persoalannya, dua kelompok pengusung BP ini berbeda pandang soal wakil bupatinya. Secara formal PDI-P memang belum menentukan kandidat wakil bupati. Namun obrolan informal jajaran partai mengerucut pada nama Asroru Maula, seorang pemuda dari kalangan Nahdlatul Ulama yang ibunya mempunyai pengaruh politik cukup besar. Asroru inilah yang membiayai pelaksanaan RAKERCABSUS pada tanggal 31 November sampai 1 oktober 2007 lalu. Pilihan kandidat WABUP dari elit PDI-Perjuangan ini berbeda dengan pilihan koalisi 3 partai yang ngotot mengusung Tosy Aryanto.
Konfigurasi ini menjadi polemic. Kabarnya BP-lah yang menginginkan Tosy, di koran-koran bahkan sering muncul pernyataan bahwa BP sendirilah yang menginginkan Tosy untuk mendampinginya. Analisis sederhananya, BP sudah menggunakan banyak logistic Tosy untuk mendanai sosialisasi awal pencalonannya. Karena penggunaan logistic inilah, mungkin terjadi adalah konsesi antara BP dan Tosy, jika nanti BP maju sebagai calon bupati maka wakil harus Tosy.
Kira-kira inilah konfigurasi politik sebelum turun surat rekomendasi pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati dari DPP PDI-Perjuangan. Peta politik pasti akan berubah setelah turun rekomendasi DPP PDI Perjuangan.
Mengapa BP jadi Rebutan?
Siapa sesungguhnya Bambang Priyono sehingga dia menjadi “rebutan” beberapa kelompok partai untuk dicalonkan. Apakah BP adalah jaminan kemenangan PILKADA? Seberapa kuatkan dia di mata masyarakat Banyumas? Sekedar informasi, Suherman Ketua DPC PDI-Perjuangan
Dalam record politik Banyumas, BP sebenarnya orang kalah. Periode lalu, BP kalah dari Aris Setiono, waktu itu bupati masih dipilih oleh para anggota DPRD. Dalam putaran pertama BP unggul tipis dari Aris dan dan dr. Tri. Putaran ke dua PILBUP, BP tidak berdaya menghadapi manuver politik Aris Setiono.
Kekalahan ini membuatnya tersingkir dari jajaran elit birokrasi PEMKAB Banyumas. Dia dimutasi dari jabatan sekda menjadi salah satu staf ahli di Bapeda Banyumas, gampangnya dia dikarantina dari pergaulan elit birokrasi, dia dikandangkan dalam untuk mengurusi tetek bengek pembangunan daerah. Perannya dikerdilkan.
Karena inilah muncul kesan BP adalah orang yang dianiaya. Ditengah peran birokrasi yang dikerdilkan BP malah sering bepergian keliling desa. Hampir seluruh pelosok Banyumas telah dia datangi. Dalam banyak kesempatan diskusi BP rajin mengungkapkan pengetahuannya yang mendalam tentang pelosok banyumas berikut permasalahannya. Dia bahkan dengan detail bisa mengingat nama orang-orang yang pernah dikunjunginya. Ingatan BP memang tajam, dan dia paham betul bagaimana menggunakan ingatannya untuk memunculkan simpati dan kesan bahwa BP adalah orang yang paham persoalan Banyumas. Bahkan detail ingatannya tentang nama-nama petani, penderes, tukang ojeg dengan segenap persoalannya memunculkan kesan BP tidak mudah melupakan rakyat kecil.
Pencitraan ini mencapai sasarannya, popularitas BP melejit setinggi langit, dia muncul sebagai orang yang membawa arus alternative di Banyumas walaupun dia berada di kalangan birokrasi. Bahkan sebagaian kalangan NGO, menganggap BP-lah figure birokrat reformis yang ada di Banyumas. Pandangan ini muncul ketika dulu, BP saat menjabat sekda berani menghentikan laju tukar guling tanah-tanah eks banda desa. Waktu itu hampir semua tanah banda desa ditukar guling dan dikuasai oleh salah seorang taipan besar.
BP juga menyiapkan infrastruktur politik. Partai yang dulu mengusungnya menjadi calon Bupati tetap ditempel. Seluruh jajaran partai disambanginya. Proses inilah yang mengantarnya menjadi balon Bupati paling popular seantero jagad PDI-Perjuangan Banyumas. Hampir seluruh pengurus ranting, PAC dan DPC PDI-Perjuangan Banyumas menggadang-gadang sebagai calon yang akan mereka menangkan dalam PILKADA kali ini. Memang ada beberapa diviasi dari beberapa PAC berupa dukungan pada Aris Wayudi, namun kalau ditelisik lebih jauh, dukungan ini semu karena tidak ada kaitan “ideologis” antara Aris Wahyudi dan PDI-Perjuangan Banyumas.
BERSAMBUNG
Read more on this article...
Diposting oleh
Muhammad Nazarudin Latief
di
17.53
0
komentar
Rabu, 24 Oktober 2007
Pangan
Pangan diartikan sebagai segala sesuatu yang dihasilkan baik secara alami dari mahluk hidup maupun rekayasa teknologi untuk dikonsumsi oleh manusia guna menghasilkan energi sebagai sumber kehidupannya.
Demikian pangan didefinisikan secara “eksakta”, definisinya tegas dan jelas. Definisi ini juga mengandung arti bahwa jika ingin melanjutkan kehidupan, mahluk hidup harus dapat mengakses pangan.
Selain itu, pangan juga berkembang menjadi banyak komoditas, pentas politik negeri ini penah memanas gara-gara pangan, waktu itu parlemen kita memanggil presiden dan mempertanyakan mengapa sampai terjadi kelaparan di bagian timur
Pangan menempati posisi yang sedemikian penting. Untuk mengaturnya, ada etika yang mengatakan bahwa pangan tidak boleh dipandang sebagai komoditas ekonomi belaka, pangan harus diletakkan sebagai hak dasar manusia yang harus bisa dipenuhi. Melville J. Herskovits, seorang antropolog ternama mengatakan pangan adalah primary determinant of survival.
Jaman menjadikan pangan berkembang rupa-rupa, bukan hanya itu, pangan juga mengglobal. Di kaki Gunung slamet orang-orang bisa menikmati ayam goreng berbalut tepung yang biasa dimakan oleh bule di salah satu negara bagian AS. Beras mengganti pangan pokok masyarakat di ujung timur
Anehnya, ada anggapan, bahwa salah satu penganan lebih bergengsi dari pada jenis lain. Mental terjajah bangsa ini belum sepenuhnya lenyap, pizza dianggap lebih bergengsi dari pada thiwul, minuman bersoda lebih bermartabat dari pada dawet. Perlahan tapi pasti, kita mengalami penyeragaman pangan. Kondisi seragam pangan inilah yang diinginkan oleh perusahaan-perusahaan besar penghasil penganan. Kondisi ini sengaja diciptakan, agar produk mereka terserap habis. Melalui iklan otak kita dicekoki dengan keunggulan produk yang mereka hasilkan, bahwa memakan penganan ini lebih bergengsi dari pada itu, meminum ini akan kuat seperti si anu dan sebagainya.
Kita dibuat lupa akan grontol, suweg, uwi, gatot, sriping makanan yang pernah membuat meja makan keluarga kita indah dan mengundang selera.
Read more on this article...
Diposting oleh
Muhammad Nazarudin Latief
di
21.45
0
komentar
PILKADES dan Gagasan Pembaharuan Desa
Dulu, waktu masih mahasiswa, kami sering membandingkan kondisi demokrasi di kampus dan desa. Waktu itu menurut kami, kehidupan demokrasi di desa jauh lebih maju dari pada di kampus. Masyarakat desa memilih secara langsung pimpinan mereka dan mengontrol kinerjanya melalui BPD yang independen. Di kampus, rektor --terutama PT yang belum menjadi BHMN-- merangkap jabatan, sebagai eksekutif juga sebagai ketua Senat Universitas, lembaga yang salah satu tugasnya melakukan kontrol terhadap kinerja Rektor.
Setelah lulus dan kemudian bekerja, obrolan tersebut saya pikir layak untuk direnungkan kembali. Melihat realitas kehidupan pedesaan ternyata tidak segampang hanya dengan menggunakan kaca demokrasi elektoral. Menurut pengamatan saya, kompleksitas kehidupan masyarakat pedesaan juga harus dilihat dalam kaca mata yang lain, misalnya ekonomi dan politik.
Sebentar lagi, Kabupaten Banyumas menyelenggarakan dua hajat yang penting bagi demokrasi. Pertama Pilkades, rencananya akan dilaksanakan tahun ini, waktu pelaksanaannya secara pasti belum ditentukan, mungkin serentak, ingin mengulang keberhasilan kabupaten tetangganya Purbalingga. Hajat yang ke dua adalah PILKADA, pemilihan bupati langsung, Juni 2008, ini hajat yang lebih besar, pemain-pemainnya tambah banyak dan semakin ruwet urusan politiknya.
Dalam momentum menjelang PILKADES ini saya ingin memaknainya lebih dalam, bukan sekedar memuaskan hajat demokrasi elektoral, namun lebih jauh memaknainya sebagai peluang untuk memajukan kehidupan pedesaan, terutama petani pedesaan. Lebih khusus lagi memaknai jabatan kepala desa, sebagai jabatan politik yang dapat memajukan masyarakat petani yang menjadi mayoritas penduduk. Kepala desa sudah waktunya untuk dimaknai bukan sekedar kepanjangan tangan administrasi pemerintahan supradesa.
Kemiskinan Pedesaan
Di akhir tahun 2006, World Bank mengeluarkan hasil risetnya yang mencengangkan. Menurut World Bank sekitar 49 persen dari total penduduk
Paparan angka diatas menunjukan bahwa sekarang kita sedang “menikmati” hasil dari model pembangunan yang menafikan posisi desa. Pada dekade tahun 50-an, teori pembangunan melihat industrialisasi sebagai satu-satunya jalan keluar dari keterbelakangan. B. Higgins yang dikutip oleh Mubyarto mengungkapkan bahwa masalah yang dihadapi oleh masyarakat pertanian
Memang industrialisasi di sektor manufaktur, perkebunan, pertanian, kehutanan berkembang dan pertumbuhan ekonomi meroket. Tapi, model pembangunan yang “
Dalam kondisi ini tidak mungkin terjadi akumulasi kapital pada masyarakat pedesaan atau petani, yang memungkinkan mereka untuk mengembangkan usaha tani. Perhatian pemerintah yang hanya menekankan pada swasembada beras, juga menghancurkan kreatifitas petani untuk melakukan diversifikasi komoditas tanaman. Parahnya, fasilitas kredit yang mereka perlukan dipenuhi bukan dari lembaga keuangan formal, namun dari lembana informal yang semakin menjerat mereka dalam kemiskinan.
Paradigma pembangunan yang bertumpu pada pertumbuhan ekonomi dengan mengandalkan modal telah menghancurkan pondasi ekonomi desa. Kegiatan ekonomi yang dijalankan adalah bentuk kegiatan yang mendorong laju pertumbuhan dan berpusat di
PILKADES dan Pembaharuan Desa
Otonomi daerah, setidaknya membuka peluang terbukanya saluran-saluran politik masyarakat yang selama ini dihilangkan. Pelaksanaan otonomi daerah harus mempunyai makna pemberdayaan masyarakat dalam aspek ekonomi (akses terhadap sumberdaya produktif utamanya lahan) politik (sistem pengambilan keputusan) dan sosial (kelembagaan masyarakat) hingga pada tingkat desa, serta aspek lingkungan (sustainability). Desentralisasi dapat dimaknai sebagai sesuatu yang menawarkan kesadaran pada kita bahwa ke depan, pembangunan harus dijiwai dan mengakomodasi nilai-nilai lokal, kultural dan historis masyarakat setempat ke dalam bentuk partisipasi seluas-luasnya.
Paralel dengan semangat ideal desentralisasi tersebut, ide tentang pembaharuan desa menemukan signifikansinya pada perbaikan kehidupan desa. Pembaharuan desa dilakukan untuk mengawal perubahan relasi ekonomi politik desa secara internal maupun eksternal yang memiliki tatanan kehidupan baru yang demokratis, mandiri dan adil. Dengan demikian, pembaharuan desa hendak melakukan konfrontasi terhadap ketimpangan ekonomi politik desa maupun krisis sosial di desa. Pembaharuan desa juga dilakukan dalam upaya mendorong masyarakat belajar secara kritis untuk mengenali faktor-faktor yang mempengaruhi hidup mereka, menempa kapasitas, membangkitkan potensi dan kekuatan lokal serta mengembangkan modal sosial, yang semua ini menjadi basis bagi demokrasi dan otonomi desa.
Pilkades, seperti hajatan demokrasi yang lain sebenarnya juga membuka jalan bagi pembaharuan desa. Hasil Pilkades, sesungguhnya jabatan politis yang kuat legitimasinya dan berdaulat. Dengan kekuasaannya Kades mempunyai kewenangan untuk mengeluarkan peraturan (Perdes) dengan persetujuan BPD.
Semacam kontrak politik, masyarakat pedesaan juga bisa memanfaatkan momentum PILKADES untuk mencari sosok Kepala Desa yang penuh komitmen untuk pembaharuan desa, daripada terus menerus dibohongi janji-janji semu politik uang. Sebagai perbandingan beberapa desa di Garut Jawa Barat telah sukses menyusun Perdes Tata Guna dan Tata Kelola Lahan, yang membuka akses petani-petani miskin pada faktor produksi tanah, dan menjamin kelangsungan usaha tani. Perdes ini merupakan hasil kontrak politik Kades terpilih dengan salah satu organisasi tani di desa tersebut. Inilah bukti bahwa masyarakat desa bisa menjadi pemeran aktif dalam hajat demokrasi, bukan hanya sekedar objek mobilisasi suara yang hanya diganti dengan beberapa lembar rupiah. Masyarakat desa bisa berdaya dan mempunyai posisi tawar secara politik sejak awal pemilihan Kades.
Read more on this article...
Diposting oleh
Muhammad Nazarudin Latief
di
13.56
0
komentar
